Dari 290 juta penduduk INdonesia, cuma ~10 juta yang punya rekening saham. Angka '30 juta investor' yang sering diblow up itu ternyata sebagian besar bukan investor saham
Saya baru lihat data yang bikin saya sendiri mikir ulang soal narasi "boom investoor ritel Indonesia" yang sering diglorifikasi. Angka yang sering dipakai media itu 30,06 juta Single Investor Identification (SID) per akhir Juli 2026, naik 47,63% dari awal tahun (OJK, 4 Agustus 2026). Tapi, ternyata angka ini nyakup semua instrumen dari reksa dana, SBN, dll. Kalau di breakdown, SID khusus saham cuma sekitar 10,5 juta, sepertiga dari total. Dan sepanjang 2026, total SID naik 47,63% sementara SID saham cuma naik **~**17%, artinya mayoritas pertumbuhan tahun ini justru terjadi di luar instrumen saham.
Jadi kalau dihitun dari total populasi Indonesia (290,1 juta) yang beneran punya rekening saham itu cuma sekitar 3,5% doang.
Angka lain yang bikin makin nyata; penduduk usia kerja 15+ ada 148,19 juta, tapi 59,3% di antaranya kerja infomal (BPS, Feb 2026). Artinya penghasilan ang gak datang di tanggal tetap tiap bulan, jadi nyisihin dana rutin buat investasi itu jauh lebih berat dibanding orang kantoran yang potong gaji otomatis.
Yang bikin makin timpang; investor usia ≤30 tahun itu 54,12% dari total investor (headcountnya banyak) tapi cuma pegang 3,8% dari total aset investor individu (KSEI, Juni 2026). Sementara di sisi lain, rekening bank di atas Rp1 miliar cuma 0,12% dari total rekening nasional, tapi nguasain 70,85% dari seluruh simpanan perbankan (LPS, Mei 2026).
10 tahun lalu (2016) SID cuma 894.116. Sekarang 30 juta, naik 33,6 kali. Tapi, partisipasi naik gede-gedean ga otomatis berarti kepemilikan aset ikut merata.
Kalian sendiri gimana liat ini, angka 3,5% dari populasi yang punya rekening saham itu udah termasuk bagus buat market kayak Indonesia atau justru nunjukin masih ketinggalan jauh dari negara-negara lain yang partisipasi ritelnya lebih tinggi?