u/nakarmus

SBN ritel udah 6% ke bawah, deposito kalah inflasi -- saya petain ke mana duit "dana aman" sebenernya bisa pindah (plus risiko yang orang lupa)

SBN ritel udah 6% ke bawah, deposito kalah inflasi -- saya petain ke mana duit "dana aman" sebenernya bisa pindah (plus risiko yang orang lupa)

Tiap ada seri SBN baru, thread di sini rame nanya "worth it ga?". Jujur aja, buat saya yang cari parkir duit low-effort (bukan trading, bukan saham judi), pilihannya makin sempit. Depsito ~4-5% dipotong pajak 20% + inflasi → real return-nya nyaris nol. SBN ritel turun terus. Jadi saya duduk, list semua opsi "dana aman" yang realistis buat orang biasa, sekalian risikonya -- karena tiap thread cuma ngebahas return jarang yang jujur soal downside-nya.

Instrumen Return kotor (kira-kira) Risiko utama yang jarang disebut
Deposito 4-5% Pajak 20% + kalah inflasi; bank kecil != auto aman, cek LPS
SBN ritel (SBR/ORI) 6-7% Kupon turun; SBR ga bisa dicairin sebelum jatuh tempo
RDPU 4-6% "Ga dijamin"; NAV bisa turun dikit, likuid tapi bukan tabungan
Emas fluktuatif Spread beli-jual gede; bukan pengjhasil arus kas
P2P bagi-hasil atau pendanaan UMKM 8-15% "katanya" Gagal bayar itu NYATA, likuiditas nol (duit kekunci), cek izin OJK dulu, jangan taruh lebih dari yang kamu ikhlas hangus

Point saya bukan "pindah semua ke yang paling tinggi" -- itu jebakan. Makin tinggi return, makin gede risiko yang dikubur di baris kedua tabel. P2P/UMKM misalnya kelihatan manis di angka tapi itu penyertaan ke bisnis riil -- kalau usahanya bangkrut, duit kamu ikut. Beda jauh sama deposito.

Saya lagi mikir alokasi: mayoritas tetap di yang boring (RDPU/SBN), dan cuma slice kecil yang saya "beraniin" ke yang return tinggi, dengan mindset uang itu boleh hilang.

Yang saya mau tanya ke kalian:

  1. Ada yang udah beneran nyoba pendanaan UMKM/P2P bagi-hasi? Realita gagal bayarnya gimana?
  2. Buat "dana aman", kalian pegang komposisi kayak apa sekarang?
  3. Pernah liat ini bagimodal.com ?
u/nakarmus — 15 hours ago
▲ 175 r/finansial

Semuanya naik, gaji stuck -- apa cuma saya yang mengap-mengap?

Saya kerja korporat di Jakarta, sambil jalanin usaha di Jogja. Dari dulu saya pisahin dua kantong ini: uang gaji muter buat hidup di Jakarta, uang usaha muter buat usaha di Jogja. Aturannya keras -- kalau salah satu lagi minus, saya pantang nomboki dari kantong yang lain. Uang yang dihasilin di satu tempat yang harus diputer di satu tempat itu juga.

Belakangan dua-duanya kena tekan barengan. Berita pagi ini bilang dolar melemah ke 17.810, IHSG menguat. Katanya ekonomi membaik. Tapi di lapangan: ayam naik di ratusan daerah, cabai rawait nyaris 60rb/kg. Di Jakarta biaya hidup makin nnyekik walau gaji segini-segini aja; di Jogja biaya bahan usaha ikut naik, margin makin tipis.

Karena saya pantang saling nombok, tiap kantong harus napas sendiri -- dan sekarang dua-duanya megap-megap. Berita hijau, dompet merah.

Yang pengen saya tanyain:

  1. Ada yang misahin keuangan seperti ini juga ngga (gaji vs usaha, ga boleh saling subsidi)? Ini disiplin sehat, atau malah bikin kaku pas kondisi susah?

  2. Pos apa yang paling kerasa naiknya buat kalian belakangan ini, dan gimana cara nyiasatin biar tiap kantong tetap bisa muter?

Jujur pengen tau, ini cuma saya atau emang lagi susah buat semua? 🤧

reddit.com
u/nakarmus — 11 days ago