
AI Data Center RI Hadapi Krisis SDM Teknologi
Listrik Indonesia | Ketua Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), Hendra Suryakusuma mengungkapkan bahwa industri data center di Indonesia saat ini menghadapi tantangan dalam pemenuhan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan teknologi terbaru, khususnya untuk mendukung pengembangan artificial intelligence (AI) data center. Hal tersebut ia ungkapkan dalam agenda Media Masterclass di Schneider Electric Indonesia Headquarters pada Rabu (20/05/2026).
Hendra menjelaskan pertumbuhan industri data center berlangsung sangat cepat, terutama dari sisi perkembangan teknologi. Namun, di sisi lain, kapasitas pengembangan sumber daya manusia dinilai masih terbatas.
Menurut dia, kondisi tersebut menyebabkan ketersediaan tenaga kerja yang mampu memenuhi kebutuhan operasional AI data center di Indonesia masih belum memadai.
“Pertumbuhan industri data center secara teknologi berlangsung sangat cepat. Di sisi lain, peluang talent development kita masih terbatas. Akibatnya, tenaga kerja yang mampu melayani kebutuhan AI data center di Indonesia juga masih sangat terbatas,” ujar Hendra.
Ia mencontohkan kondisi di Batam yang saat ini mengalami pertumbuhan industri data center cukup pesat. Namun, percepatan pertumbuhan industri tersebut dinilai belum diimbangi dengan ketersediaan sumber daya manusia lokal yang memadai.
Hendra menyebut sejumlah perusahaan data center di Batam akhirnya merekrut tenaga kerja dari Jakarta maupun luar negeri untuk memenuhi kebutuhan operasional.
“Apalagi kalau berbicara Batam. Pertumbuhan industrinya sangat pesat, tetapi sumber daya manusianya benar-benar terbatas. Akhirnya banyak pekerja dari Jakarta, bahkan sebagian dari Malaysia, datang ke Batam untuk bekerja di data center,” katanya.
Selain itu, Hendra mengungkapkan terdapat minat tenaga kerja asing dari sejumlah negara untuk bekerja di industri data center Indonesia, termasuk dari India dan Bangladesh.
Meski demikian, IDPRO menyatakan telah menyampaikan kepada para pemangku kepentingan agar prioritas penyerapan tenaga kerja tetap diberikan kepada pekerja asal Indonesia.
“Sebagai gambaran, banyak tenaga kerja dari India dan Bangladesh juga sangat ingin bekerja di Indonesia. Namun kami sudah menyampaikan kepada para pemangku kepentingan agar tetap memprioritaskan tenaga kerja dari Indonesia terlebih dahulu,” tutupnya.