
u/Etheikin

Purbaya Guyur Rp2 T Tiap Hari Bantu BI Selamatkan Rupiah
cnbcindonesia.comThrowback : Menkeu Purbaya Membalas Kritik The Economist Soal Dana Rp200 T, "Dasar Majalah Bego!"
ini yang terakhir
ada tuh tulisan
yang bilang Indonesia rage rainy day.
Dia bilang di di ekonomis itu saya
ngabisin uang yang disimpan untuk
keadaan susah sebesar RP 200 triliun.
Padahal kan uangnya enggak habis.
Uangnya cuma saya pindahin aja.
Jadi majalah di ekonomis yang canggih
itu ternyata enggak sepintar gua.
[tertawa]
Jadi gini
kalau saya aktifkan
ini kalau Anda baca yang hari ini Pak
Tanto baca betul deh. Dibilang saya
salah saya ini. Gua bilang dasar majalah
bego.
Oh iya iya dong. Kan dia banyak
ekonominya kan harusnya. Ternyata emang
dugaan saya betul dia enggak sebentar
saya.
Jadi kalau saya hidupkan dua-duanya
ekonomi fiskal moneter dengan ini
mesinnya dua tumbuh saya pikir 6 sampai
6,5 bisalah nanti Anda akan mendapatkan
keadaan ekonomi yang beda dibanding
sebelumnya.
Throwback : Detik-detik Prabowo Sujud Syukur Usai Klaim Menang 62 Persen
youtube.comAkankah rupiah melemah lebih parah ?
Ane kira orang orang r/finansial udah pada tau kalo rupiah akan melemah semenjak spending gede dari menkeu / semenjak Rp 200 T dikeluarkan. tapi ngelihat rupiah nyentuh angka psikologi kok gk ada yang pamer profit dari USD/Stock, Gold.
kok kaya pengunjung subreddit lebih merem dibanding r/wallstreetbets.
Setelah nyentuh angka psikologi, justru rame postingan nanya dimana mau invest selain IDR, ini menurut ane sinyal konfirmasi kalo sentiment terhadap IDR udah terjun bebas, yang bisa mengakibatkan death spiral IDR, jadi borrowing cost untuk IDR bisa melonjak tinggi karena sentimentnya jelek, karena borrowing cost tinggi, makin lemahlah IDR.
kalo udah masuk spiral, susah keluarnya (namanya juga spiral).
jadi. langkah terbaik mulai keluarin IDR.
yang artinya IDR bakalan makin lemah
yang artinya orang makin keluarin IDR. and so on so forth.
Pembubaran Menonton Bareng Film ”Pesta Babi” Dinilai Berlebihan
JAKARTA, KOMPAS — Pembubaran menonton bareng film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita oleh aparat TNI dinilai sebagai tindakan berlebihan dan tidak sesuai dengan kewenangan institusi pertahanan. Tindakan TNI itu dipandang menodai hak warga negara dalam menikmati karya seni. Seharusnya sebuah karya yang mengandung kritik terhadap kebijakan atau program pemerintah dihormati, bukan justru dibungkam karena merupakan bentuk partisipasi publik.
Sebelumnya, video terkait Komandan Kodim 1501/Ternate Letkol (Inf) Jani Setiadi membubarkan kegiatan pemutaran film dokumenter Pesta Babi yang tengah berlangsung di Kota Ternate, Maluku Utara, pada Jumat (8/5/2026) viral di media sosial. Kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi itu sebelumnya digelar oleh Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) Maluku Utara bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Ternate di Pendopo Benteng Oranje, Kota Ternate.
Dalam video itu, Letkol (Inf) Jani yang mengenakan kaus putih menyampaikan, pihaknya telah memonitor kegiatan nobar tersebut. Ia mengklaim banyak penolakan masyarakat terhadap film tersebut. ”Kemudian keberadaan kegiatan ini, kami melihat di media sosial, banyaknya penolakan akan kegiatan film ini karena banyak yang menilai ini bersifat provokatif dari judulnya,” kata Jani.
Mengapa menonton karya seni saja harus dihadang oleh militer? Apakah ini ancaman terhadap pertahanan negara? Tindakan pihak militer ini berlebih-lebihan dan merupakan bentuk pembungkaman terhadap kebebasan berekspresi.
”Ini bukan pendapat pribadi saya. Tapi jika tidak percaya, akan saya tunjukkan, banyak yang sifat provokatif menurut masyarakat, menurut di media sosial,” lanjut Jani.
Untuk itu, ia meminta kegiatan nobar tersebut tidak dilanjutkan sebab di Maluku Utara hal terkait isu SARA dinilai sangat sensitif dan mudah dipolitisasi. Ia lantas meminta pihak penyelenggara melanjutkan kegiatan diskusi seperti yang sudah diagendakan.
Pembubaran pemutaran film dokumenter juga terjadi di tempat lain, seperti di wilayah Mataram, Nusa Tenggara Barat. Beberapa kampus, seperti Universitas Islam Negeri Mataram, Universitas Mandalika, dan Universitas Mataram, membatalkan acara nobar dan diskusi film Pesta Babi.
Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Komisi XIII DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Andreas Hugo Pareira saat dihubungi Senin (11/5/2026) mempertanyakan tindakan aparat TNI membubarkan aktivitas pemutaran dan nobar film dokumenter Pesta Babi di Kota Ternate.
”Mengapa menonton karya seni saja harus dihadang oleh militer? Apakah ini ancaman terhadap pertahanan negara? Tindakan pihak militer ini berlebih-lebihan dan merupakan bentuk pembungkaman terhadap kebebasan berekspresi,” kata Pareira.
Film Pesta Babi merupakan garapan dari sutradara Dhandy Dwi Laksono. Dandhy dikenal kerap membuat berbagai film bertema sosial-politik dan lingkungan. Bersama Cypri Dale, film ini diproduksi melalui kolaborasi sejumlah organisasi advokasi lingkungan dan HAM seperti Greenpeace Indonesia, WatchDoc, Yayasan Bentala Pusaka, hingga Media Jubi.
Film Pesta Babi mengambil latar di wilayah Papua Selatan, terutama di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, dengan durasi film 95 menit atau 1 jam 35 menit.
Fokus utamanya adalah kehidupan masyarakat adat seperti suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu yang disebut kehilangan tanah dan ruang hidup akibat ekspansi proyek perkebunan tebu, sawit, hingga food estate. Dokumenter tersebut menggambarkan bagaimana hutan-hutan adat dibuka untuk proyek bioetanol dan ketahanan pangan dalam skala besar. Di sisi lain, masyarakat lokal merasa tersingkir dari tanah leluhur mereka sendiri.
Pareira melanjutkan, pembubaran aktivitas nobar film dokumenter sebagai tindakan yang menodai hak warga negara untuk menikmati karya seni.
”Justru bentuk pemaksaan, larangan, semacam ini malah mendorong masyarakat semakin penasaran untuk menyaksikan karya seni dokumenter Pesta Babi. Bukan tidak mungkin, karya film ini justru karena nilai kritisnya akan memperoleh penghargaan internasional. Akan menjadi hal yang memalukan kalau di dalam negeri dilarang, masyarakat internasional malah memberi penghargaan,” ujar Pareira.
Secara terpisah, Ketua Komnas HAM Anis Hidayah menyesalkan dan mengecam pembubaran terhadap aktivitas nobar film dokumenter tersebut. Apalagi, film merupakan bagian dari karya seni dan ekspresi yang haknya harusnya dijamin sepenuhnya oleh negara.
”Ekspresi seni itu merupakan salah satu elemen dari kebebasan berpendapat dan berekspresi yang itu merupakan constitutional rights atau hak yang dijamin di dalam konstitusi dan juga undang-undang hak asasi manusia,” kata Anis.
Anis menilai pembubaran nobar film tersebut sudah melampaui kewenangan TNI. TNI disebut tidak memiliki kewenangan hukum untuk membubarkan aktivitas sipil berupa pemutaran karya seni atau diskusi publik.
”Apalagi yang membubarkan ini adalah TNI, tidak punya kewenangan untuk melakukan pembubaran seperti itu. Saya kira pembubaran-pembubaran diskusi, nonton bareng sebuah film karya seni, itu juga menodai demokrasi. Kita mesti mendorong agar ruang aman bagi masyarakat untuk berekspresi, berpendapat itu dijamin sepenuhnya. Jangan lagi, jangan kemudian, ini ada kemunduran yang bisa mengancam demokrasi kita ke depan,” ujar Anis.
Sementara itu, Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasrullah belum menjawab ketika dikonfirmasi adanya pembubaran pemutaran film dokumenter yang dilakukan Dandim 1501 Ternate, termasuk apakah ada kemungkinan instruksi kepada Komandan Kodim di daerah.
Aulia hanya menjawab terkait hal itu agar ditanyakan langsung kepada Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat Brigjen Donny Pramono. Hingga berita ini dibuat, Donny belum merespons ketika dihubungi melalui pesan singkat dan telepon.
Gimana cara kelola 10M?
Seandainya ada uang 10M gimana cara kelola yg paling aman?
1 orang aja. Tidak berkeluarga.
Tidak bekerja (nol penghasilan).
Uangnya bisa diparkir dimana sehingga mendapatkan penghasilan pasif tiap bulan?
Sebisa mungkin harus aman terhadap gonjang-ganjing gejolak dunia.