Sosialisme mencerminkan buta ekonomi.

Di Indonesia, gagasan sosialisme masih cukup sering muncul dalam diskusi politik, media sosial, dan sebagian organisasi kemahasiswaan. Dalam perdebatan mengenai keadilan sosial, pemerataan ekonomi, maupun kritik terhadap kapitalisme, nama Tan Malaka kerap menjadi salah satu tokoh yang dirujuk.

Terlepas dari nilai historis dan filosofisnya, sosialisme juga telah lama menjadi objek kritik dalam ilmu ekonomi. Banyak ekonom berpendapat bahwa kelemahan sosialisme bukan hanya terletak pada implementasinya, tetapi juga pada mekanisme ekonomi yang menjadi fondasi sistem tersebut.

  1. Sosialisme Merusak Sinyal Harga

Salah satu kritik paling mendasar terhadap sosialisme adalah bahwa sistem ini mengganggu fungsi harga sebagai pembawa informasi ekonomi. Dalam ekonomi pasar, harga tidak hanya berfungsi sebagai nilai tukar, tetapi juga memberikan sinyal mengenai kelangkaan barang, tingkat permintaan, dan biaya produksi.

Ketika pemerintah menetapkan harga atau mengurangi peran mekanisme pasar, sinyal tersebut menjadi terdistorsi. Produsen tidak lagi memperoleh informasi yang akurat mengenai barang apa yang paling dibutuhkan masyarakat, sementara konsumen menghadapi harga yang tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

Akibatnya, alokasi sumber daya menjadi kurang efisien. Sebagai contoh, apabila harga hasil pertanian dipatok terlalu rendah demi menjaga keterjangkauan, petani memiliki insentif yang lebih kecil untuk meningkatkan produksi. Dalam jangka panjang, kebijakan tersebut justru dapat memicu kelangkaan pangan.

  1. Perencanaan Ekonomi Tidak Mampu Menggantikan Mekanisme Pasar

Sosialisme klasik menempatkan negara sebagai perencana utama aktivitas ekonomi. Pemerintah menentukan apa yang diproduksi, berapa jumlahnya, dan bagaimana sumber daya dialokasikan.

Menurut Ludwig von Mises dan Friedrich Hayek, pendekatan ini menghadapi kendala mendasar karena tidak ada lembaga yang mampu mengumpulkan seluruh informasi ekonomi yang tersebar di jutaan individu. Pengetahuan mengenai kebutuhan konsumen, kondisi lokal, perubahan teknologi, hingga ketersediaan bahan baku selalu berubah dan hanya diketahui oleh masing-masing pelaku ekonomi.

Tanpa mekanisme harga yang terbentuk melalui pasar, pemerintah tidak memiliki informasi yang cukup untuk membuat keputusan yang efisien. Kesalahan dalam satu sektor dapat memengaruhi sektor lainnya karena seluruh sistem saling terhubung.

Kritik ini sering dikaitkan dengan pengalaman sejarah. Kelaparan Besar di Tiongkok pada masa Great Leap Forward (1959–1961) dan berbagai kekurangan pangan di Uni Soviet sering dijadikan contoh bagaimana kesalahan perencanaan ekonomi dapat menghasilkan dampak yang sangat besar. Meskipun demikian, banyak sejarawan juga mencatat bahwa faktor politik, kebijakan pertanian, dan kondisi alam turut berkontribusi terhadap peristiwa-peristiwa tersebut.

  1. Berkurangnya Insentif dan Efek Berantainya

Ekonomi pasar memberikan penghargaan kepada individu yang mampu menciptakan nilai melalui kerja keras, inovasi, maupun investasi. Keuntungan menjadi insentif untuk terus meningkatkan produktivitas dan mengambil risiko dalam menciptakan usaha baru.

Dalam sistem yang membatasi keuntungan atau menyeragamkan hasil kerja, hubungan antara usaha dan imbalan menjadi lebih lemah. Ketika seseorang merasa bahwa kerja lebih keras tidak memberikan manfaat yang sepadan, motivasi untuk meningkatkan produktivitas juga dapat menurun.

Penurunan insentif ini tidak berhenti pada tingkat individu. Dampaknya dapat menyebar ke seluruh perekonomian melalui berkurangnya investasi, melambatnya inovasi, menurunnya produktivitas, hingga melemahnya pertumbuhan ekonomi.

Sebagai contoh, seorang pengusaha yang mengetahui bahwa sebagian besar hasil usahanya akan diambil alih atau dibatasi negara mungkin memilih untuk tidak memperluas bisnisnya. Akibatnya, lapangan kerja baru, investasi, dan pengembangan teknologi menjadi lebih sedikit.

  1. Pelemahan Hak Milik

Hak milik pribadi merupakan salah satu institusi penting dalam ekonomi pasar karena memberikan kepastian bahwa seseorang dapat menikmati hasil dari usaha dan investasinya. Kepastian tersebut mendorong individu untuk merawat aset, menanamkan modal, dan merencanakan investasi jangka panjang.

Dalam berbagai bentuk sosialisme, kepemilikan alat produksi dipindahkan kepada negara atau dimiliki secara kolektif. Menurut para pengkritiknya, kondisi ini mengurangi kepastian kepemilikan sehingga insentif untuk melakukan investasi juga ikut melemah.

Sebagai contoh, seorang petani yang tidak memiliki kepastian atas lahan yang dikelolanya cenderung enggan mengeluarkan biaya untuk memperbaiki irigasi, meningkatkan kualitas tanah, atau menanam tanaman yang baru memberikan hasil beberapa tahun kemudian. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dinilai dapat menurunkan produktivitas dan efisiensi ekonomi.

kesimpulan

Secara keseluruhan, kritik ekonomi terhadap sosialisme berangkat dari pandangan bahwa suatu sistem ekonomi harus dinilai berdasarkan mekanisme dan hasil yang dihasilkannya, bukan semata-mata tujuan yang ingin dicapai. Banyak ekonom seperti Ludwig von Mises, Friedrich Hayek, Milton Friedman, dan Thomas Sowell berpendapat bahwa pelemahan mekanisme harga, perencanaan ekonomi terpusat, berkurangnya insentif individu, serta pembatasan hak milik dapat menyebabkan alokasi sumber daya yang tidak efisien, produktivitas yang menurun, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat. Meskipun kritik-kritik tersebut tetap diperdebatkan oleh para pendukung sosialisme dan ekonomi campuran, memahami argumentasi ini penting agar pembahasan mengenai sistem ekonomi didasarkan pada analisis mekanisme, bukti empiris, dan konsekuensi praktis, bukan hanya pada cita-cita atau niat yang melatarbelakanginya.

u/Thrash_tor1Lok — 16 days ago

Dark Triad dan Mengapa Kekuasaan Perlu Dibatasi

Penelitian dalam psikologi organisasi menunjukkan adanya korelasi antara sifat-sifat Dark Triad—narsisme, Machiavellianisme, dan psikopati subklinis—dengan kemunculan individu pada posisi kepemimpinan, baik di perusahaan maupun pemerintahan. Temuan ini tidak berarti bahwa semua pemimpin memiliki karakteristik tersebut, maupun bahwa sifat tersebut selalu menghasilkan kepemimpinan yang buruk. Namun, penelitian menunjukkan bahwa karakteristik seperti rasa percaya diri yang tinggi, kemampuan memengaruhi orang lain, keberanian mengambil risiko, dan kecakapan memainkan dinamika politik organisasi dapat meningkatkan peluang seseorang mencapai posisi yang memiliki kekuasaan.

Perbedaan mendasar antara sektor swasta dan pemerintahan terletak pada mekanisme koreksi. Dalam pasar yang kompetitif, perusahaan yang dipimpin secara buruk akan mendapatkan tekanan kehilangan karyawan, pelanggan, maupun investor. Seorang pekerja yang menghadapi budaya kerja yang toksik masih memiliki kesempatan untuk mencari perusahaan lain. Sebaliknya, warga negara tidak dapat dengan mudah memilih pemerintahan lain sebagaimana memilih penyedia barang atau jasa. Ketika kekuasaan pemerintah terkonsentrasi pada individu atau kelompok dengan kecenderungan menyalahgunakan wewenang, konsekuensinya tidak hanya dirasakan oleh pegawai, tetapi oleh seluruh masyarakat.

Dari sudut pandang libertarian, persoalan utamanya bukanlah apakah individu yang memegang jabatan memiliki karakter yang baik atau buruk. Sistem politik tidak boleh bergantung pada asumsi bahwa penguasa selalu bermoral. Justru karena manusia memiliki keterbatasan, kepentingan pribadi, dan potensi menyalahgunakan kekuasaan, maka kekuasaan itu sendiri harus dibatasi. Institusi yang baik bukanlah institusi yang berharap memperoleh pemimpin yang sempurna, melainkan institusi yang tetap mampu melindungi kebebasan individu ketika pemimpin yang kurang baik berada di dalamnya.

Semakin besar kewenangan pemerintah untuk mengatur aktivitas ekonomi, semakin besar pula insentif bagi berbagai kelompok kepentingan untuk memengaruhi proses politik demi memperoleh keuntungan. Dalam literatur ekonomi politik, fenomena ini dikenal sebagai rent-seeking. Perusahaan tidak lagi bersaing terutama melalui inovasi, kualitas, atau efisiensi, tetapi melalui akses terhadap kekuasaan. Akibatnya, hubungan antara pelaku usaha dan pemerintah dapat berubah menjadi kronisme, yaitu pemberian privilese kepada pihak tertentu berdasarkan kedekatan politik, bukan melalui persaingan yang terbuka.

Kondisi tersebut juga menciptakan peluang yang lebih besar bagi korupsi. Ketika pejabat memiliki kewenangan luas untuk memberikan izin, subsidi, kontrak, proteksi, atau perlakuan khusus kepada kelompok tertentu, kekuasaan tersebut memiliki nilai ekonomi yang dapat diperjualbelikan secara ilegal. Hal ini tidak berarti setiap bentuk intervensi ekonomi pasti menghasilkan korupsi, tetapi semakin besar ruang diskresi yang tidak diimbangi transparansi dan akuntabilitas, semakin besar pula peluang terjadinya penyalahgunaan wewenang.

Dampaknya tidak berhenti pada persoalan hukum. Korupsi dan kronisme mendistorsi mekanisme pasar. Modal tidak lagi mengalir kepada perusahaan yang paling produktif, melainkan kepada perusahaan yang memiliki koneksi politik terbaik. Persaingan menjadi tidak sehat, inovasi menurun, biaya berusaha meningkat, dan sumber daya dialokasikan secara tidak efisien. Dalam jangka panjang, masyarakat membayar harga dari sistem tersebut melalui pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah, produktivitas yang melemah, serta berkurangnya kesempatan bagi pelaku usaha baru untuk bersaing secara adil.

Oleh karena itu, pembatasan kekuasaan bukan sekadar prinsip filosofis libertarian, melainkan juga mekanisme institusional untuk mengurangi risiko penyalahgunaan wewenang. Semakin sedikit privilese yang dapat diberikan oleh negara, semakin kecil pula insentif untuk membeli pengaruh politik. Semakin terbatas ruang diskresi pemerintah, semakin sulit pula bagi individu dengan kecenderungan manipulatif untuk mengubah kekuasaan publik menjadi keuntungan pribadi.

u/Thrash_tor1Lok — 22 days ago

Mengapa Kemiskinan Relatif Bukan Ukuran Kemiskinan yang Baik

Indonesia secara resmi mengukur kemiskinan menggunakan garis kemiskinan absolut, bukan kemiskinan relatif. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, isu ketimpangan pendapatan semakin sering menjadi pertimbangan dalam diskusi kebijakan publik.

Pertanyaannya adalah: apakah prioritas utama seharusnya mengurangi kesenjangan pendapatan, atau meningkatkan taraf hidup masyarakat?

Ada pandangan yang berargumen bahwa distribusi pendapatan bukanlah sesuatu yang dapat dirancang secara objektif oleh pemerintah. Distribusi merupakan hasil dari jutaan keputusan individu—konsumen, pekerja, investor, dan wirausahawan—yang berinteraksi secara sukarela melalui pasar.

Dari sudut pandang ini, ukuran keberhasilan ekonomi bukanlah seberapa kecil jarak antara si kaya dan si miskin, tetapi apakah semakin banyak masyarakat yang memperoleh pekerjaan, pendapatan yang lebih tinggi, akses terhadap pendidikan dan kesehatan, serta kualitas hidup yang lebih baik.

Karena itu, sebagian ekonom juga mengkritik penggunaan kemiskinan relatif sebagai indikator utama. Jika seluruh masyarakat menjadi dua kali lebih makmur tetapi distribusi pendapatannya tetap sama, tingkat kemiskinan relatif hampir tidak berubah. Padahal, deprivasi nyata telah berkurang dan standar hidup meningkat.

Atas dasar itu, kemiskinan absolut dan kemiskinan multidimensi dinilai lebih tepat sebagai acuan kebijakan karena berfokus pada kemampuan memenuhi kebutuhan dasar dan kualitas hidup, bukan posisi seseorang dalam distribusi pendapatan.

Dalam kerangka ini, cara paling berkelanjutan untuk mengurangi kemiskinan adalah membiarkan proses pasar bekerja: melindungi hak milik, menegakkan kepastian hukum, menyederhanakan regulasi, membuka perdagangan, dan memberi ruang bagi kewirausahaan serta investasi. Ketika individu bebas menciptakan nilai dan bersaing secara sukarela, produktivitas meningkat, modal bertambah, lapangan kerja tercipta, dan standar hidup masyarakat terdorong naik tanpa harus menjadikan redistribusi pendapatan sebagai tujuan utama kebijakan.

reddit.com
u/Thrash_tor1Lok — 26 days ago

Apakah AI Benar-Benar Membuat Pemerintah Mampu Merencanakan Ekonomi Secara Optimal?

Salah satu argumen yang semakin sering muncul adalah bahwa perkembangan artificial intelligence (AI) telah mengatasi keterbatasan klasik pemerintah dalam mengelola perekonomian. Dengan kemampuan memproses data dalam jumlah besar secara real-time, AI dianggap mampu membantu pemerintah menentukan tingkat pajak, subsidi, regulasi, maupun bentuk intervensi lainnya secara lebih efisien dibandingkan sebelumnya.

Namun, apakah literatur ekonomi benar-benar mendukung klaim tersebut?

Dalam artikelnya The Economic Institutions of Artificial Intelligence yang diterbitkan di Journal of Institutional Economics (2024), ekonom Sinclair Davidson berargumen bahwa kemajuan AI memang secara signifikan meningkatkan kapasitas komputasi dan pemrosesan informasi. Akan tetapi, peningkatan kapasitas komputasi tidak serta-merta menyelesaikan permasalahan mendasar yang telah dikemukakan oleh Ludwig von Mises dan Friedrich Hayek mengenai economic calculation problem dan knowledge problem.

Hayek berpendapat bahwa pengetahuan ekonomi tidak pernah terkonsentrasi pada satu institusi. Informasi yang relevan mengenai kondisi ekonomi tersebar di antara jutaan individu, bersifat lokal, berubah secara dinamis, dan sering kali merupakan tacit knowledge—pengetahuan yang sulit atau bahkan tidak dapat dikodifikasi ke dalam basis data. Sebagian informasi tersebut bahkan baru muncul melalui proses kompetisi, inovasi, perubahan preferensi konsumen, serta aktivitas kewirausahaan.

Dengan demikian, permasalahan utama bukan sekadar kurangnya kemampuan menghitung, melainkan ketidaktersediaan informasi yang diperlukan untuk dihitung. AI dapat mengolah informasi yang telah tersedia dengan sangat baik, tetapi tidak dapat memperoleh informasi yang belum tercipta atau yang hanya dapat muncul melalui proses pasar. Oleh karena itu, Davidson menyimpulkan bahwa AI dapat mengurangi bounded rationality dalam pengambilan keputusan, tetapi tidak menghilangkan knowledge problem yang menjadi salah satu kritik utama terhadap perencanaan ekonomi terpusat.

Hal ini bukan berarti AI tidak memiliki manfaat dalam sektor publik. Sebaliknya, AI berpotensi meningkatkan kualitas analisis data dan informasi, mempercepat pengolahan dokumen administratif, meningkatkan kualitas pelayanan publik, membantu deteksi fraud dan penyimpangan, mengoptimalkan proses birokrasi, serta meningkatkan efisiensi operasional pemerintahan. Dalam konteks tersebut, AI merupakan alat yang bernilai untuk mendukung pelaksanaan fungsi-fungsi administratif dan operasional pemerintah.

Namun, kemampuan tersebut berbeda dengan kemampuan menentukan tingkat intervensi ekonomi yang optimal. Menurut argumen Davidson, persoalan mendasar bukan terletak pada keterbatasan daya komputasi, melainkan pada sifat pengetahuan ekonomi yang tersebar, dinamis, kontekstual, dan sebagian besar baru muncul melalui proses pasar. Oleh karena itu, peningkatan kemampuan analisis melalui AI tidak serta-merta menghilangkan knowledge problem maupun economic calculation problem yang menjadi kritik terhadap perencanaan ekonomi terpusat.

Dengan kata lain, hingga saat ini belum terdapat bukti bahwa kemajuan AI telah menghilangkan keterbatasan fundamental yang menjadi dasar kritik Hayek dan Mises terhadap kemampuan otoritas pusat dalam menentukan tingkat intervensi ekonomi secara optimal.

reddit.com
u/Thrash_tor1Lok — 29 days ago

Apakah Bantuan Sosial Pemerintah Menurunkan Tanggung Jawab Individu? Perspektif Libertarian dan Bukti Penelitian

Dari perspektif libertarian, bantuan sosial langsung oleh pemerintah perlu dirancang dengan sangat hati-hati karena memiliki potensi menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan (unintended consequences). Tujuan utama membantu masyarakat miskin atau rentan tetap penting, namun mekanisme pencapaiannya juga perlu mempertimbangkan insentif, tanggung jawab individu, serta peran masyarakat sipil.

  1. Potensi penurunan tanggung jawab pribadi dan social interest

Psikolog Alfred Adler menjelaskan bahwa social interest (Gemeinschaftsgefühl) merupakan kemampuan individu untuk berkontribusi dan merasa menjadi bagian dari masyarakat. Bantuan yang bersifat permanen, tanpa syarat, dan tidak diarahkan menuju kemandirian berpotensi mengurangi motivasi seseorang untuk kembali produktif apabila insentif yang diciptakan tidak tepat.

Dalam ekonomi, fenomena ini berkaitan dengan perubahan insentif. Ketika manfaat tidak banyak berubah meskipun seseorang tidak berusaha meningkatkan pendapatannya, sebagian penerima dapat menunda kembali bekerja atau mengurangi usaha untuk mandiri. Efek tersebut tidak terjadi pada semua orang, tetapi merupakan risiko yang harus dipertimbangkan dalam desain kebijakan.

  1. Efek crowding out terhadap masyarakat sipil

Libertarian berpendapat bahwa semakin besar negara mengambil alih fungsi kesejahteraan, semakin kecil ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan solidaritas sukarela.

Penelitian ekonomi mengenai crowding out menunjukkan bahwa pengeluaran pemerintah pada beberapa konteks dapat mengurangi donasi pribadi maupun aktivitas filantropi, meskipun besarnya efek berbeda-beda antar negara dan jenis program. James Andreoni (1993, 2006) menunjukkan bahwa dalam teori maupun sebagian bukti empiris, pemberian pemerintah dapat menggantikan sebagian kontribusi sukarela masyarakat, walaupun crowding out biasanya tidak bersifat sempurna.

Akibatnya, hubungan sosial yang sebelumnya dibangun melalui gotong royong, yayasan sosial, organisasi keagamaan, koperasi, dan komunitas lokal dapat melemah karena masyarakat menganggap fungsi tersebut telah sepenuhnya diambil alih oleh pemerintah.

  1. Beban pajak yang lebih tinggi

Program bantuan sosial memerlukan pembiayaan yang umumnya berasal dari pajak. Dari perspektif libertarian, hal ini tidak hanya meningkatkan beban pajak, tetapi juga mengurangi hak individu untuk menentukan penggunaan hasil kerjanya sendiri. Semakin besar redistribusi oleh negara, semakin kecil kebebasan seseorang untuk menabung, berinvestasi, atau berdonasi secara sukarela. Selain itu, setiap kenaikan pajak memiliki opportunity cost, karena dana tersebut tidak lagi dapat digunakan untuk kegiatan produktif atau filantropi yang dipilih secara bebas oleh individu.

  1. Moral hazard dan ketergantungan

Ekonomi telah lama mengenal konsep moral hazard, yaitu ketika perlindungan terhadap risiko mengubah perilaku penerima sehingga mereka mengambil keputusan yang kurang bertanggung jawab dibandingkan jika harus menanggung seluruh konsekuensinya sendiri.

Dalam konteks bantuan sosial, moral hazard dapat muncul apabila program tidak memiliki batas waktu, syarat, maupun insentif untuk kembali bekerja. Sebagian kecil penerima mungkin memilih tetap bergantung pada bantuan meskipun sebenarnya masih memiliki kemampuan untuk bekerja.

Penting dicatat bahwa sebagian besar penerima bantuan tidak dapat digeneralisasi sebagai "malas" atau "parasit". Namun, keberadaan sebagian kecil kasus tersebut tetap merupakan masalah desain kebijakan karena menciptakan beban bagi pembayar pajak sekaligus mengurangi efektivitas program.

  1. Alternatif: gotong royong sukarela dan filantropi

Libertarian tidak menolak solidaritas sosial. Sebaliknya, mereka berpendapat bahwa solidaritas paling kuat muncul ketika dilakukan secara sukarela.

Tradisi gotong royong di berbagai daerah Indonesia pada awalnya berkembang sebagai kerja sama berbasis norma sosial dan timbal balik, bukan karena paksaan negara. Demikian pula filantropi, yayasan sosial, organisasi keagamaan, koperasi, dan komunitas lokal dapat memberikan bantuan yang lebih dekat dengan kebutuhan penerima serta memiliki informasi lokal yang sering kali tidak dimiliki birokrasi pusat.

Selain lebih fleksibel, mekanisme sukarela juga memperkuat modal sosial (social capital), rasa tanggung jawab bersama, serta hubungan antarmasyarakat.

  1. Jaring pengaman sosial yang terbatas

Sebagian besar libertarian modern (khususnya libertarian minarkis dan sebagian liberal klasik) tidak menolak seluruh bentuk bantuan pemerintah. Mereka menerima keberadaan social safety net yang terbatas sebagai perlindungan terakhir (last resort) bagi kelompok yang benar-benar tidak mampu, seperti penyandang disabilitas berat, lansia tanpa keluarga, korban bencana, atau kondisi darurat.

Namun, bantuan tersebut sebaiknya memenuhi beberapa prinsip:

- bersifat sementara jika memungkinkan;

- tepat sasaran;

- memiliki insentif menuju kemandirian;

- tidak menggantikan peran keluarga, komunitas, dan masyarakat sipil;

- dibatasi agar tidak berkembang menjadi ketergantungan permanen.

Kesimpulan

Perspektif libertarian memandang bahwa kesejahteraan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh besarnya bantuan pemerintah, tetapi juga oleh kualitas institusi sosial, tanggung jawab individu, dan kekuatan masyarakat sipil. Bantuan negara yang terlalu luas berisiko menimbulkan crowding out, meningkatkan beban pajak, menciptakan moral hazard, serta melemahkan gotong royong dan filantropi. Oleh karena itu, solusi yang lebih diutamakan adalah memperkuat solidaritas sukarela melalui keluarga, komunitas, organisasi masyarakat, dan filantropi, sementara negara menyediakan jaring pengaman sosial yang terbatas bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.

reddit.com
u/Thrash_tor1Lok — 1 month ago

Mengapa Kemiskinan Ekstrem Turun Drastis Sejak 1980-an? Perspektif Ekonomi Pasar

Jika tujuan utama suatu sistem ekonomi adalah mengurangi kemiskinan, maka bukti empiris selama beberapa dekade terakhir memberikan argumen kuat bagi ekonomi pasar. Penelitian Dollar dan Kraay (2002) menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi meningkatkan pendapatan masyarakat miskin hampir sebanding dengan rata-rata pendapatan nasional. Penelitian David Dollar (2005) juga menemukan bahwa negara-negara berkembang yang lebih terbuka terhadap perdagangan, investasi, dan mekanisme pasar mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi serta penurunan kemiskinan yang lebih cepat.

Dari perspektif libertarian, temuan tersebut konsisten dengan prinsip bahwa kebebasan ekonomi, hak kepemilikan yang kuat, pasar yang kompetitif, dan minimnya hambatan terhadap kegiatan usaha menciptakan insentif bagi investasi, inovasi, dan penciptaan lapangan kerja. Kemakmuran tidak terutama dihasilkan melalui redistribusi kekayaan, melainkan melalui penciptaan nilai dan produktivitas yang memperluas kesempatan ekonomi bagi masyarakat.

Sejak 1980-an, banyak negara mulai meliberalisasi perdagangan, membuka diri terhadap investasi asing, melakukan privatisasi perusahaan milik negara, serta mengurangi berbagai hambatan terhadap aktivitas ekonomi. Reformasi seperti di China (sejak 1978), Vietnam (Đổi Mới 1986), India (1991), serta gelombang liberalisasi di berbagai negara berkembang bertepatan dengan turunnya proporsi penduduk dunia yang hidup dalam kemiskinan ekstrem dari lebih dari 40% pada awal 1980-an menjadi kurang dari 10% sebelum pandemi, sebagaimana didokumentasikan oleh World Bank.

Bagi libertarian, keterkaitan antara meluasnya kebebasan ekonomi dan turunnya kemiskinan ekstrem ini merupakan bukti bahwa masyarakat menjadi lebih sejahtera ketika individu memiliki ruang yang lebih besar untuk berproduksi, berdagang, berinvestasi, dan berinovasi dalam kerangka hukum yang melindungi hak milik dan kebebasan berkontrak.

reddit.com
u/Thrash_tor1Lok — 1 month ago
▲ 22 r/libertarianindonesia+1 crossposts

Market Failure explained for a layperson.

Textbook definition:

- Market failure occurs when the free market fails to allocate goods and services efficiently, resulting in a net loss of social welfare.

Let’s take this definition apart and understand what it actually means.

Social welfare - the total well-being of society according to whatever framework exists at the moment.

Allocation of resources - who produces what, who consumes what, and how much is being produced and consumed.

Failure - the state or condition of not meeting a desirable or intended objective, whatever the objective might be today.

Market - a place where buyers and sellers meet to trade goods and services.

So in other words, Market Failure is a condition that doesn’t meet current framework established by the government and “experts”. It has nothing to do with markets, there is no failure, it simply means “things aren’t the way I (any talking head) want them to be”.

What happens in reality -

Individuals choose to allocate their resources in accordance with their personal interests and needs. Their preferences create Effective Demand. Producers adjust supply so they can satisfy Effective Demand. For example - I want tomatoes, I have enough money to buy tomatoes, I go to the store and the store employee helps me to complete my purchase of tomatoes. No failure. Markets work as intended.

I represent Effective Demand - I have enough money to buy tomatoes.

Yet here we are, every other person that read two paragraphs about economics will scream from the top of their lungs about market failures.

For them it means “if I can’t buy what I want for the price I’m ready to pay it means the free market has failed”.

For example - John is willing to pay $200/m for a family health insurance plan with $0 Deductible. No such plan is available. John turns around and says it’s a Market Failure.

John does not represent Effective Demand. As a market participant, he had chosen to allocate his resources the way where health insurance isn’t prioritized. Is that John’s failure? No. Is that Market’s failure? No, the Market has nothing to do with John deciding how to spend his money.

The Market (health insurance companies) - can’t offer products and services at a loss. They see John’s $200/m for his family as a guaranteed looser of account for them, so they reject to offer coverage at that price. The Market avoided the Failure.

Another example - Janet who works at one of the notable government agencies and regularly meets with press looks at the homeownership rate that declined by 0.5% in a year, and sees a decrease in residential mortgage loan originations. She does a few strokes on her computer, and now, theoretically, one could save $100k on a 30 year mortgage. Four months later, during the next press conference, she’s asked - the homeownership rate hasn’t changed for the better, can you explain why? Janet says - we did what we could, it’s a Market Failure.

Janet doesn’t build homes, she’s not a brick layer, nor a general contractor. Janet isn’t a head of the household for hundred+ million of families, so she can’t decide for them how to allocate their resources. Janet doesn’t own 100k+ houses that are ready for sale. But Janet is convinced- her actions were perfect, those few strokes on her keyboard were magical, and the Market, including You, have Failed to follow her prescribed actions in matters that she personally has nothing to do with.

That’s right. It’s Your fault. It’s also a fault of the person who doesn’t want to sell a house for the price they find unacceptable. It’s all us peasants that just keep resisting the perfect scenarios imagined by policymakers. We cause Market Failures by not acting in accordance with Janet’s ideas.

Market Failure is one of the most nonsensical terms that’s being used to justify government intervention. However, we see Market Failure being used to describe conditions of some of the most regulated industries like Healthcare and Housing, markets that had been under bombardment of regulations and stimulus for decades. So what actually happens is the government intervenes, their plans fail, they intervene even more, things still don’t go the way the government wants, the government doubles down again - market implodes. The government gives its verdict - it’s a Market Failure, we need more/total control to fix it.

I know I’m beating the dead horse here, especially with my fellow Austrians. But what the actual fuck? I get that an average person may lack willingness to learn and understand what economic terms mean, but lots of scholars, govt officials, otherwise smart and competent individuals continue to repeat this nonsense. Absolutely the most moronic and regarded shit in the modern conversations around economics.

reddit.com
u/Thrash_tor1Lok — 23 days ago

Dampak Kontrol Harga: Dari Kelangkaan hingga Beban Fiskal Pemerintah (Perspektif Libertarian)

Bagi libertarian, kontrol harga merupakan pembatasan terhadap hak individu dalam menentukan harga barang atau jasa yang dimilikinya melalui transaksi sukarela.

Harga terbentuk dari interaksi banyak pihak berdasarkan preferensi konsumen, tingkat kelangkaan, biaya produksi, dan kondisi pasar. Karena itu, harga berfungsi sebagai sinyal dan insentif bagi produsen maupun konsumen.

Ketika pemerintah menetapkan harga secara paksa, mekanisme tersebut dapat mengalami distorsi.

  • Price floor (harga minimum) → harga ditetapkan di atas harga pasar sehingga memberikan insentif bagi produsen untuk meningkatkan produksi. Namun, jika permintaan tidak mampu menyerap seluruh produksi, akan terjadi surplus (oversupply). Contoh Indonesia: Kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah membuat pemerintah melalui Bulog dapat membeli kelebihan produksi untuk menjaga harga petani. Dari perspektif libertarian, kebijakan ini dapat menciptakan beban fiskal, karena negara harus menyediakan anggaran untuk membeli, menyimpan, dan mengelola stok yang tidak sepenuhnya terserap pasar. Selain itu, kebijakan tersebut dapat mengurangi fungsi harga sebagai sinyal karena produsen tetap memiliki insentif memproduksi meskipun permintaan pasar tidak mencukupi.
  • Price ceiling (harga maksimum) → harga dibatasi di bawah harga pasar sehingga mendistorsi insentif pengusaha untuk memproduksi, memasok, dan berinvestasi karena margin keuntungan berkurang. Akibatnya, pasokan dapat menurun sementara permintaan meningkat sehingga muncul kelangkaan (shortage). Contoh Indonesia: Kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) pada beberapa komoditas pangan. Jika harga maksimum terlalu rendah dibanding biaya produksi dan distribusi, pedagang dapat mengurangi pasokan karena keuntungan tidak lagi menarik.

Dari perspektif libertarian, masalah utama kontrol harga bukan hanya perubahan harga, tetapi hilangnya fungsi harga sebagai mekanisme informasi dan koordinasi ekonomi.

Referensi

  • F. A. Hayek (1945), The Use of Knowledge in Society.
  • N. Gregory Mankiw, Principles of Economics.
  • Jesús Huerta de Soto, Socialism, Economic Calculation and Entrepreneurship.
reddit.com
u/Thrash_tor1Lok — 1 month ago

Demokrasi Belum Tentu Menjamin Kebebasan

"Demokrasi adalah dua serigala dan seekor domba yang memberikan suara untuk menentukan apa yang akan mereka makan saat makan siang. Kebebasan adalah seekor domba yang bersenjata lengkap yang menolak hasil pemungutan suara itu" - Benjamin Franklin

u/Thrash_tor1Lok — 1 month ago

Mengapa Libertarian Menolak Bank Sentral? Tinjauan Mazhab Austria

Sentralisasi sistem moneter melalui bank sentral merupakan salah satu bentuk intervensi pemerintah yang paling mendasar terhadap mekanisme pasar. Dengan memberikan hak monopoli atas penerbitan mata uang dan pengendalian suku bunga, negara menggantikan proses penemuan harga price discovery yang seharusnya terbentuk secara spontan melalui interaksi antara penabung dan investor. Akibatnya, sinyal ekonomi yang diterima pelaku pasar menjadi terdistorsi.

Menurut teori Austrian Business Cycle, manipulasi suku bunga melalui ekspansi kredit menciptakan ilusi ketersediaan modal yang lebih besar daripada tabungan riil masyarakat. Distorsi ini mendorong investasi yang tidak berkelanjutan (malinvestment), sehingga memicu fase boom semu yang pada akhirnya harus dikoreksi melalui resesi. Dengan demikian, siklus bisnis bukanlah kegagalan pasar, melainkan konsekuensi dari intervensi moneter yang mengganggu koordinasi alami antara tabungan, investasi, dan preferensi waktu masyarakat.

Sebagai alternatif, sistem free banking menunjukkan bahwa stabilitas moneter tidak harus bergantung pada otoritas yang tersentralisasi. Pengalaman Skotlandia pada abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19 menjadi salah satu bukti historis bahwa persaingan antarbank mampu menghasilkan sistem keuangan yang lebih stabil, inovatif, dan responsif terhadap kebutuhan pasar. Dalam sistem tersebut, bank-bank swasta menerbitkan uang mereka sendiri yang didukung oleh reputasi dan aset, sehingga disiplin pasar menjadi mekanisme utama untuk mencegah perilaku yang berisiko. Bank yang bertindak tidak hati-hati akan kehilangan kepercayaan nasabah dan tersingkir oleh kompetitor tanpa memerlukan intervensi pemerintah.

Dibandingkan dengan sistem perbankan Inggris yang lebih tersentralisasi di bawah Bank of England, sistem free banking Skotlandia menghasilkan inovasi kelembagaan seperti branch banking, mekanisme note clearing, serta persaingan yang mendorong efisiensi. Dari perspektif libertarian, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa koordinasi sukarela melalui pasar mampu menghasilkan tatanan moneter yang lebih adaptif daripada pengendalian terpusat. Oleh karena itu, monopoli bank sentral dipandang bukan sebagai prasyarat stabilitas ekonomi, melainkan sebagai sumber distorsi yang meningkatkan kemungkinan terjadinya siklus bisnis dan alokasi modal yang tidak efisien.

reddit.com
u/Thrash_tor1Lok — 1 month ago
▲ 150 r/libertarianindonesia+1 crossposts

You do hear a lot of this discourse about how capitalism failed the developing world. Of course it's blatant nonsense.

The richest African and Asian countries are the most capitalist, and the poorest are the least. It's not particularly close.

u/AndrewPC555 — 1 month ago

Kebebasan Berbicara dalam Libertarianisme: Mengapa Pendapat yang Keliru Tidak Boleh Disensor

Salah satu kesalahpahaman yang paling umum tentang libertarianisme adalah anggapan bahwa libertarian membela semua pendapat sebagai sesuatu yang benar. Padahal, posisi libertarian bukanlah bahwa semua pendapat memiliki nilai yang sama, melainkan bahwa kesalahan suatu pendapat bukanlah alasan yang cukup bagi negara untuk melarang penyampaiannya.

Libertarian membedakan antara kesalahan intelektual dan pelanggaran hak. Pendapat dapat sepenuhnya salah secara ilmiah, historis, maupun ekonomis, tetapi selama penyampaiannya tidak melanggar hak orang lain, negara tidak memiliki legitimasi untuk menggunakan paksaan terhadap pembicaranya.

Dalam perspektif ini, kebenaran tidak ditentukan melalui sensor, melainkan melalui kompetisi gagasan. Pendapat yang lemah seharusnya dijawab dengan argumen yang lebih kuat, bukti empiris, dan diskusi terbuka, bukan dengan pelarangan.

Ada pula alasan institusional. Negara bukanlah lembaga yang selalu benar. Sepanjang sejarah, banyak gagasan yang pada awalnya dianggap sesat atau berbahaya justru kemudian terbukti benar atau setidaknya memberikan kontribusi penting terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebijakan publik.

Lebih jauh lagi, memberikan negara kewenangan untuk menyensor pendapat karena dianggap keliru juga membuka peluang bagi negara untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dibicarakan berdasarkan kepentingan politik, ideologi, atau kepentingan penguasa yang sedang berkuasa, bukan semata-mata berdasarkan pencarian kebenaran. Ketika negara memperoleh kewenangan tersebut, batas antara melindungi masyarakat dan mengendalikan wacana publik menjadi semakin kabur, sehingga kebebasan berpendapat berpotensi terkikis secara bertahap.

Tentu, kebebasan berbicara bukan berarti kebal terhadap kritik ataupun konsekuensi sosial. Libertarian juga umumnya membedakan antara ekspresi pendapat dan tindakan yang secara langsung melanggar hak orang lain, seperti ancaman yang kredibel, penipuan, atau bentuk agresi lainnya.

Pada akhirnya, prinsip libertarian dapat diringkas dalam satu kalimat:

Hak untuk berbicara tidak bergantung pada benar atau salahnya suatu pendapat. Justru kebebasan berbicara menjadi paling penting ketika melindungi pendapat yang tidak populer atau bahkan keliru, karena kebenaran lebih mungkin ditemukan melalui kebebasan berdiskusi daripada melalui sensor negara.

reddit.com
u/Thrash_tor1Lok — 1 month ago

Panduan Bacaan Pemula: Rekomendasi Buku Libertarianisme & Austrian Economics

Bagi yang baru mempelajari libertarianisme, saya merekomendasikan dua buku berikut:

  1. The Libertarian Mind – David Boaz

  2. Choice: Cooperation, Enterprise, and Human Action – Robert P. Murphy

The Libertarian Mind memberikan pengenalan mengenai prinsip-prinsip libertarian, sedangkan Choice memperkenalkan dasar-dasar Austrian economics, seperti harga, kewirausahaan, modal, struktur produksi, uang, dan siklus bisnis dengan bahasa yang lebih mudah dibandingkan karya-karya klasik seperti Human Action atau Man, Economy, and State.

Saya merekomendasikan Austrian economics karena mazhab ini memiliki hubungan yang erat dengan perkembangan pemikiran libertarian modern dan membantu memahami argumen ekonomi yang sering muncul dalam diskusi libertarian.

Buku-buku tersebut dapat dicari melalui marketplace/e-commerce, Open Library, atau situs resmi seperti Independent Institute dan Mises Institute, tergantung ketersediaan versi cetak maupun e-book.

Tips belajar: Jangan khawatir jika menemukan konsep yang sulit atau terkendala bahasa Inggris. Manfaatkan AI untuk menjelaskan konsep dengan bahasa yang lebih sederhana, memberikan contoh, menerjemahkan bagian yang belum dipahami, dan bertanya sampai benar-benar mengerti. AI dapat menjadi pendamping belajar yang sangat membantu, bukan sekadar penerjemah.

reddit.com
u/Thrash_tor1Lok — 1 month ago

Konflik Antar-Lembaga dan Insentif Kekuasaan: Sebuah Analisis Libertarian

Ketegangan yang muncul antara institusi penegak hukum dan institusi negara bukan sekadar persoalan individu atau pergantian kepemimpinan. Dari perspektif libertarian, fenomena ini merupakan konsekuensi yang dapat diprediksi ketika negara memiliki kewenangan yang luas, terutama dalam mengendalikan sumber daya ekonomi, anggaran publik, dan kewenangan penegakan hukum.

Pemikir seperti Friedrich Hayek, James Buchanan, dan Gordon Tullock berpendapat bahwa pejabat publik tetap merespons insentif sebagaimana individu pada umumnya. Institusi cenderung mempertahankan, bahkan memperluas, kewenangan, anggaran, dan pengaruhnya. Karena itu, konflik antarlembaga tidak cukup dijelaskan sebagai persoalan "oknum", tetapi juga sebagai akibat dari desain kelembagaan yang menciptakan persaingan atas kekuasaan.

Hal ini menjadi semakin penting karena sebagian besar kasus korupsi di Indonesia berkaitan dengan pengelolaan sumber daya ekonomi oleh pemerintah. Korupsi dalam pengadaan barang dan jasa, proyek infrastruktur, pengelolaan APBN dan APBD, BUMN, perizinan usaha, hingga distribusi bantuan publik menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi yang dikelola negara menyediakan peluang besar bagi penyalahgunaan kewenangan. Semakin besar nilai anggaran dan semakin luas diskresi pejabat, semakin besar pula insentif untuk melakukan korupsi maupun mencari keuntungan melalui kedekatan politik (rent seeking).

Dalam kondisi seperti itu, kewenangan untuk menyelidiki, menuntut, mengawasi, atau mengendalikan kebijakan ekonomi menjadi sumber daya politik yang sangat bernilai. Persaingan antarlembaga tidak lagi hanya berkaitan dengan penegakan hukum, tetapi juga mengenai siapa yang memiliki pengaruh lebih besar terhadap distribusi kekuasaan dan sumber daya negara.

Teori Public Choice menjelaskan bahwa birokrasi memiliki kecenderungan memperluas yurisdiksi dan mempertahankan eksistensinya. Oleh sebab itu, gesekan antara institusi penegak hukum maupun institusi keamanan bukanlah fenomena yang mengejutkan. Semakin besar kewenangan yang tersedia untuk diperebutkan, semakin tinggi pula potensi konflik.

Dari sudut pandang libertarian, solusi jangka panjang bukan sekadar mengganti pejabat atau membentuk tim baru. Yang lebih penting adalah mempersempit ruang diskresi pemerintah, memperjelas batas kewenangan setiap institusi, memperkuat transparansi, serta meningkatkan mekanisme *checks and balances*. Ketika negara lebih berfokus pada fungsi-fungsi inti seperti perlindungan hak, keamanan, dan penegakan hukum yang akuntabel, insentif untuk memperebutkan kendali atas sumber daya ekonomi negara juga cenderung berkurang.

Peristiwa ketegangan antarlembaga saat ini seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi desain kelembagaan, bukan sekadar menentukan siapa yang menang atau kalah. Sistem yang baik bukanlah sistem yang bergantung pada integritas individu semata, melainkan sistem yang membatasi kesempatan penyalahgunaan kekuasaan melalui aturan yang jelas dan akuntabilitas yang kuat.

Dalam tradisi libertarian, pertanyaan utamanya bukanlah siapa yang memegang kekuasaan, melainkan seberapa besar kekuasaan yang seharusnya dimiliki negara. Selama negara menguasai semakin banyak sumber daya ekonomi dan kewenangan yang bernilai tinggi, potensi korupsi, perebutan pengaruh, dan konflik antarlembaga akan tetap menjadi risiko yang melekat, terlepas dari siapa pun yang sedang memerintah.

reddit.com
u/Thrash_tor1Lok — 1 month ago

Deduksi dari Teori Adler: Mengapa Masyarakat yang Lebih Libertarian Berpotensi Mendorong Perkembangan Individu

Tulisan ini merupakan sebuah deduksi teoretis berdasarkan Individual Psychology Alfred Adler, bukan pernyataan politik yang secara eksplisit pernah disampaikan oleh Adler.

Salah satu gagasan utama Adler adalah bahwa setiap manusia memiliki perasaan inferior (feelings of inferiority). Menurutnya, rasa inferior bukanlah sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan sumber motivasi yang mendorong manusia untuk berkembang melalui proses yang ia sebut sebagai **striving for superiority**—usaha untuk menjadi lebih kompeten, lebih mampu, dan lebih berguna bagi masyarakat.

Jika konsep ini diterapkan pada tingkat sosial, muncul sebuah hipotesis menarik: masyarakat yang lebih libertarian tampaknya menyediakan lingkungan yang lebih kondusif bagi proses perkembangan tersebut.

Dalam masyarakat yang lebih mengutamakan kebebasan individu, setiap keputusan memiliki konsekuensi yang lebih nyata. Keberhasilan maupun kegagalan lebih banyak bergantung pada pilihan pribadi dibandingkan intervensi institusi. Situasi ini menciptakan insentif yang kuat untuk belajar, meningkatkan keterampilan, beradaptasi terhadap perubahan, dan mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Dengan kata lain, individu didorong untuk mengompensasi rasa inferior melalui pengembangan diri, bukan melalui ketergantungan pada pihak lain.

Sebaliknya, ketika negara mengambil peran yang semakin besar dalam mengelola berbagai aspek kehidupan, sebagian konsekuensi dari keputusan individu ikut dialihkan kepada institusi publik. Walaupun pendekatan ini dapat memberikan rasa aman, ia juga berpotensi mengurangi tekanan yang sering kali menjadi pendorong utama pertumbuhan psikologis. Jika perlindungan berkembang menjadi ketergantungan, maka insentif untuk membangun kompetensi dan kemandirian dapat melemah.

Konsep Adler mengenai social interest (Gemeinschaftsgefühl) juga sering disalahpahami. Kepedulian terhadap sesama tidak identik dengan semakin besarnya peran negara. Adler berbicara mengenai individu yang matang secara psikologis—mereka yang mampu bekerja sama, menghargai orang lain, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Dari sudut pandang libertarian, kepedulian sosial justru dapat berkembang secara organik melalui keluarga, komunitas, organisasi sukarela, filantropi, koperasi, hingga mekanisme pasar. Bantuan yang diberikan secara sukarela mencerminkan tanggung jawab moral individu, bukan sekadar kewajiban administratif yang dimediasi oleh negara.

Secara sosiologis, institusi membentuk budaya. Masyarakat yang memberikan ruang lebih besar bagi kebebasan individu cenderung membangun budaya yang menghargai tanggung jawab pribadi, inovasi, kewirausahaan, keberanian mengambil risiko, dan penyelesaian masalah secara mandiri. Sebaliknya, masyarakat yang sangat bergantung pada koordinasi negara berisiko menumbuhkan budaya yang lebih pasif, lebih bergantung pada otoritas, dan kurang terdorong untuk mengembangkan solusi secara mandiri.

Tentu saja, tidak berarti semua bentuk intervensi negara selalu menghambat perkembangan individu. Namun, apabila dianalisis melalui kerangka Adler, terdapat alasan teoretis untuk berpendapat bahwa semakin besar ruang bagi individu untuk menanggung konsekuensi dari pilihannya sendiri, semakin besar pula peluang munculnya pribadi-pribadi yang mandiri, adaptif, dan kompeten.

Karena itu, apabila tujuan suatu masyarakat adalah membentuk individu yang bertanggung jawab, kreatif, dan terus berkembang, maka lingkungan sosial yang lebih menghargai kebebasan individu tampaknya lebih konsisten dengan mekanisme perkembangan psikologis yang dijelaskan oleh Adler.

Bagaimana menurut kalian? Apakah deduksi ini masuk akal, atau justru saya terlalu jauh menghubungkan psikologi Adler dengan teori institusi dan libertarianisme?

reddit.com
u/Thrash_tor1Lok — 1 month ago
▲ 319 r/libertarianindonesia+1 crossposts

🇲🇾🇸🇬 Two countries split from the same colonial body in 1965. One picked economic freedom. The other picked handouts and racial spoils. You already know how this ended.

Singapore had no oil, no farmland, no hinterland. Just a swamp and a port. Lee Kuan Yew looked at that and trusted trade, low taxes, and hard money. Central planners hate what he did.

Malaysia went the other way. In 1971 Kuala Lumpur launched the New Economic Policy, a state program handing quotas, contracts, and university seats to ethnic Malays. Politicians decided who got what. A commissar fantasy dressed in liberal language.

Now let's look at the numbers. In 1965 both places sat around $500 per capita. Today Singapore clears $84,000. Malaysia sits near $13,000. Same climate, same starting line, one sixth the result.

The Singapore dollar holds its value because the Monetary Authority of Singapore manages it against a currency basket and refuses to print its way out of trouble. The ringgit has lost roughly two thirds of its value against the Singapore dollar since 1981.

You cannot subsidize your way to wealth. You cannot redistribute what you never let people produce. Every ringgit funneled through a quota is a ringgit some bureaucrat spent on his own vision instead of a customer's.

Malaysia bet on planners deciding outcomes. Singapore bet on people deciding for themselves. The gap between $84,000 and $13,000 is your answer.

https://preview.redd.it/m1qg5quh9tbh1.png?width=1600&format=png&auto=webp&s=9da422a070c99fbc6d491d460c7d89b0bff6088d

reddit.com
u/Thrash_tor1Lok — 1 month ago