
Pertanyaan yang lebih penting untuk menentukan apakah Islam memiliki kontradiksi dengan teori evolusi sains modern.
Menurutku, diskusi mengenai apakah Islam sejalan dengan teori evolusi itu sering kali kurang spesifik. Banyak yang menyederhanakannya menjadi pernyataan seperti:
"Islam bertentangan dengan teori evolusi."
Padahal pernyataan ini terlalu umum. Teori evolusi itu luas. Bisa saja seorang Muslim menerima teori evolusi pada hewan, tetapi menolak teori evolusi manusia, dan semacamnya. Walaupun ya, kalau begitu bisa dibilang masuk ke cherry-picking sains juga.
Selain itu, ada beberapa Muslim yang mencoba merekonsiliasikan teori evolusi dengan narasi Islam, tetapi alasan yang digunakan sebenarnya tidak menjawab permasalahannya. Contohnya dalam kedua post ini: Dr. Bobby dan Prof. Zulys.
Misalnya, ada Muslim yang bilang:
"Al-Quran mengatakan bahwa penciptaan manusia memiliki proses, sehingga ini tidak kontradiktif dengan sains yang mengatakan manusia ada karena proses evolusi."
Menurutku, itu belum cukup untuk membuktikan bahwa keduanya tidak kontradiktif. Karena kita tetap harus melihat konteks dan tafsir ayatnya. Apakah yang dimaksud dengan "proses" tersebut memang evolusi, atau sebenarnya bukan?
Nah, karena alasan ini, menurutku pembahasannya harus dibuat lebih spesifik. Untuk menentukan apakah narasi Islam kontradiktif dengan teori evolusi manusia, aku ingin menekankan dua pertanyaan ini:
- Apakah Islam meyakini bahwa Adam dan Hawa tidak memiliki orang tua?
- Apakah Islam meyakini bahwa Adam dan Hawa adalah satu-satunya sumber genealogi manusia?
Jika jawaban untuk keduanya adalah YA, yang menurutku memang merupakan jawaban yang benar, maka jelas narasi Islam tersebut kontradiktif dengan teori evolusi manusia.
Banyak usaha telah dilakukan untuk mereinterpretasikan narasinya agar tidak bertentangan dengan sains. Namun, menurutku, rekonsiliasi semacam ini biasanya justru menjawab “tidak” terhadap salah satu dari dua pertanyaan di atas, yang kemungkinan besar bertentangan dengan dalil-dalil Islam, meskipun sejalan dengan sains, walaupun tidak didukung oleh bukti saintifik dan hanya dimaksudkan agar narasi tersebut tidak kontradiktif dengan sains.
Misalnya, ada Muslim yang mencoba merekonsiliasikannya dengan mengatakan bahwa Adam dan Hawa adalah manusia pertama secara spiritual atau dalam hal memiliki roh, tetapi bukan manusia pertama secara fisik. Konsekuensinya, ini menjawab "tidak" terhadap pertanyaan pertama, karena Adam dan Hawa tidak lagi harus dipahami sebagai manusia yang muncul tanpa orang tua biologis.
Ada juga yang mengatakan bahwa Adam dan Hawa memang tidak memiliki orang tua, tetapi mereka ditempatkan pada masa ketika manusia purba/Homo sudah ada. Kemudian, keturunan Adam dan Hawa melakukan banyak perkawinan dengan manusia-manusia purba tersebut, sehingga semua manusia modern tetap memiliki Adam dan Hawa dalam garis keturunannya. Konsekuensinya, posisi ini menjawab "tidak" terhadap pertanyaan kedua, karena Adam dan Hawa bukan lagi satu-satunya sumber genealogi manusia.
Menurutku, kalau memang dalil terkuat menunjukkan bahwa Islam kontradiktif dengan teori evolusi modern, ya sudah. Jangan dipaksakan agar keduanya cocok. Karena, sekali lagi, kriteria untuk menentukan interpretasi yang akurat bukan didasarkan pada seberapa cocok interpretasi tersebut dengan sains atau realitas, tetapi pada seberapa kuat interpretasi itu didukung oleh dalil-dalilnya, seperti yang pernah aku katakan di post ini.
Kalau kamu memaksakan suatu interpretasi agar cocok dengan sains, berarti tujuanmu bukan lagi mencari interpretasi yang paling benar berdasarkan dalil, tetapi mencari alasan agar agamamu harus benar. Padahal ya menurutku seseorang juga harus terbuka ke kemungkinan bahwa agama yang dia anut bisa saja salah.