Pertanyaan yang lebih penting untuk menentukan apakah Islam memiliki kontradiksi dengan teori evolusi sains modern.

Pertanyaan yang lebih penting untuk menentukan apakah Islam memiliki kontradiksi dengan teori evolusi sains modern.

Menurutku, diskusi mengenai apakah Islam sejalan dengan teori evolusi itu sering kali kurang spesifik. Banyak yang menyederhanakannya menjadi pernyataan seperti:

"Islam bertentangan dengan teori evolusi."

Padahal pernyataan ini terlalu umum. Teori evolusi itu luas. Bisa saja seorang Muslim menerima teori evolusi pada hewan, tetapi menolak teori evolusi manusia, dan semacamnya. Walaupun ya, kalau begitu bisa dibilang masuk ke cherry-picking sains juga.

Selain itu, ada beberapa Muslim yang mencoba merekonsiliasikan teori evolusi dengan narasi Islam, tetapi alasan yang digunakan sebenarnya tidak menjawab permasalahannya. Contohnya dalam kedua post ini: Dr. Bobby dan Prof. Zulys.

Misalnya, ada Muslim yang bilang:

"Al-Quran mengatakan bahwa penciptaan manusia memiliki proses, sehingga ini tidak kontradiktif dengan sains yang mengatakan manusia ada karena proses evolusi."

Menurutku, itu belum cukup untuk membuktikan bahwa keduanya tidak kontradiktif. Karena kita tetap harus melihat konteks dan tafsir ayatnya. Apakah yang dimaksud dengan "proses" tersebut memang evolusi, atau sebenarnya bukan?

Nah, karena alasan ini, menurutku pembahasannya harus dibuat lebih spesifik. Untuk menentukan apakah narasi Islam kontradiktif dengan teori evolusi manusia, aku ingin menekankan dua pertanyaan ini:

  1. Apakah Islam meyakini bahwa Adam dan Hawa tidak memiliki orang tua?
  2. Apakah Islam meyakini bahwa Adam dan Hawa adalah satu-satunya sumber genealogi manusia?

Jika jawaban untuk keduanya adalah YA, yang menurutku memang merupakan jawaban yang benar, maka jelas narasi Islam tersebut kontradiktif dengan teori evolusi manusia.

Banyak usaha telah dilakukan untuk mereinterpretasikan narasinya agar tidak bertentangan dengan sains. Namun, menurutku, rekonsiliasi semacam ini biasanya justru menjawab “tidak” terhadap salah satu dari dua pertanyaan di atas, yang kemungkinan besar bertentangan dengan dalil-dalil Islam, meskipun sejalan dengan sains, walaupun tidak didukung oleh bukti saintifik dan hanya dimaksudkan agar narasi tersebut tidak kontradiktif dengan sains.

Misalnya, ada Muslim yang mencoba merekonsiliasikannya dengan mengatakan bahwa Adam dan Hawa adalah manusia pertama secara spiritual atau dalam hal memiliki roh, tetapi bukan manusia pertama secara fisik. Konsekuensinya, ini menjawab "tidak" terhadap pertanyaan pertama, karena Adam dan Hawa tidak lagi harus dipahami sebagai manusia yang muncul tanpa orang tua biologis.

Ada juga yang mengatakan bahwa Adam dan Hawa memang tidak memiliki orang tua, tetapi mereka ditempatkan pada masa ketika manusia purba/Homo sudah ada. Kemudian, keturunan Adam dan Hawa melakukan banyak perkawinan dengan manusia-manusia purba tersebut, sehingga semua manusia modern tetap memiliki Adam dan Hawa dalam garis keturunannya. Konsekuensinya, posisi ini menjawab "tidak" terhadap pertanyaan kedua, karena Adam dan Hawa bukan lagi satu-satunya sumber genealogi manusia.

Menurutku, kalau memang dalil terkuat menunjukkan bahwa Islam kontradiktif dengan teori evolusi modern, ya sudah. Jangan dipaksakan agar keduanya cocok. Karena, sekali lagi, kriteria untuk menentukan interpretasi yang akurat bukan didasarkan pada seberapa cocok interpretasi tersebut dengan sains atau realitas, tetapi pada seberapa kuat interpretasi itu didukung oleh dalil-dalilnya, seperti yang pernah aku katakan di post ini.

Kalau kamu memaksakan suatu interpretasi agar cocok dengan sains, berarti tujuanmu bukan lagi mencari interpretasi yang paling benar berdasarkan dalil, tetapi mencari alasan agar agamamu harus benar. Padahal ya menurutku seseorang juga harus terbuka ke kemungkinan bahwa agama yang dia anut bisa saja salah.

u/Low_Pianist_2067 — 5 days ago
▲ 28 r/IndoExMuslim+1 crossposts

Bolehnya pernikahan dan konsumasi anak dalam Islam dan tafsir dari At Talaaq ayat 4.

Disclaimer:
Aku secara personal percaya Islam memang membolehkan pernikahan dan konsumasi anak dibawah umur, sepertir 9 tahun. Kalau tidak setuju, silakan, tapi di sini aku mengirimkan sumber-sumber yang menurutku memberikan bukti kuat bahwa Islam memang membolehkannya. “Membolehkan” di sini dalam konteks fikih ya, artinya ini aturan umum yang berlaku hingga sekarang, jadi tidak berlaku ke zaman tertentu. Paling tidak, aku bisa nunjukin kalau interpretasi ini bukan fringe opinion, out of context, atau misinterpretasi dari ulama-ulama abal-abal, tapi punya fondasi dalil yang kuat.

Oh iya, jangan cuma baca yang di-highlight, itu hanya emphasis saja. Saranku, baca semuanya, khususnya bagian IslamQA itu ada detail-detail penting.

Referensi Gambar & Tambahan

IslamQA ( Gambar 1 - 4 )
Itu aslinya bahasa inggris, tapi ku auto translate. Nah penjelasan mengapa At Talaaq ayat 4 relevan ada disini. At Talaaq membahas masa iddah. Apa itu Iddah? Iddah itu masa tunggu bagi seorang perempuan untuk tidak menikah lagi setelah berpisah dengan suami. Sisa konteksnya bisa dibaca sendiri.

Tafsir Ibnu Katsir At Talaaq ayat 4 ( Gambar 5 )
Kumpulan-kumpulan tafsir At Talaaq ayat 4 dari Tafsir Web ( Gambar 6 - 7 ) (Bisa liat juga tafsir lainnya, ga hanya dua itu saja)
Pendapat Sheikh Bin Baz di website Almanhaj ( Gambar 8 - 9 )
(Sheikh Bin Baz salah satu ulama paling berpengaruh, pernah jadi Grand Mufti Arab Saudi)
Website Rumaysho ( Gambar 10 )

Nah aku kirim juga penjelasan Zakir Naik dan Sheikh Al-Fawzan dari YouTube. Sheikh Al-Fawzan itu salah satu ulama berpengaruh juga, dan latar belakangnya kredibel. Oh iya, pendapat Zakir Naik sedikit berbeda dari pendapat yang dipegang IslamQA di artikel tersebut.

Antisipasi respons

1. "Bukankah walaupun begitu, jika ingin dinikahi atau dikonsumasi, perlu persetujuan dari orang tersebut walaupun di bawah umur?"

Iya, walaupun ada yang berpendapat bahwa dalam kasus tertentu tidak wajib untuk meminta persetujuan dari orangnya (lihat gambar 3 dan 4). Tapi for the sake of argument, let's grant that. Tetap bermasalah, alasannya simpelnya: a child cannot meaningfully consent in this context.

2. "Bukankah IslamQA mengatakan bahwa ada syarat-syarat untuk seorang anak di bawah umur agar dapat dikonsumasi, misalnya, dia harus "sanggup" secara fisik terlebih dahulu?"

Benar, tapi siapa yang menentukan "kesanggupan" tersebut? Menurutku, syarat tersebut ga cukup untuk membuat praktik konsumasi anak secara keseluruhan menjadi aman. Secara teori, mungkin saja ada kasus di mana konsumasi anak tidak menimbulkan bahaya, tapi terus bukan berarti praktiknya harus dibolehkan secara umum. Dalam Islam sendiri kan sesuatu bisa dilarang berdasarkan resiko atau potensi bahayanya. Misalnya, menyentuh non-mahram saja bisa diharamkan karena berpotensi menjerumuskan seseorang kepada zina (17:32), walaupun ya belum tentu semua kasus menyentuh non-mahram menjerumuskan seseorang ke zina. Jadi ya ini maksudnya pencegahan. Nah, kalau begitu, dengan logika yang sama, kenapa risiko dan potensi bahaya dari konsumasi anak tidak menjadi alasan yang cukup untuk melarangnya?

3. "Islam mengharamkan pernikahan dan konsumasi yang berbahaya. Pernikahan anak itu berbahaya, oleh karena itu by definition pernikahan anak harusnya haram."

Aku pernah dengar argumen ini dari beberapa Muslim. Jadi, mereka mengklaim bahwa Islam sebenarnya tidak membolehkan pernikahan anak karena Islam melarang pernikahan yang berbahaya.

Masalahnya, dari mana informasi bahwa pernikahan anak itu berbahaya? Apakah dari Islam itu sendiri, atau dari sumber eksternal seperti sains modern? Jawabannya tentu dari sumber eksternal. Kalau begitu, ya ga bisa begitu saja menggunakan informasi eksternal tersebut untuk menyimpulkan bahwa Islam sebenarnya mengharamkan pernikahan anak. Apalagi kalau dari sumber-sumber fikih sendiri justru ada dalil dan pendapat ulama yang menunjukkan bahwa pernikahan anak secara umum diperbolehkan.

Maksudnya, kalau Islam sendiri memberikan ruang untuk membolehkan pernikahan anak, lalu kita mengambil kesimpulan bahwa pernikahan anak sebenarnya haram karena sains modern menunjukkan bahwa itu berbahaya, ya itu berarti kita sedang memasukkan standar eksternal ke dalam hukum Islam. Oke menurut sains itu berbahaya, tapi menurut Islam? Belum tentu, itu yang jadi bahan perdebatannya.

Jika Islam memang mengetahui bahwa pernikahan anak itu secara umum berbahaya, atau mudaratnya lebih besar daripada manfaatnya, maka seharusnya Islam secara eksplisit mengharamkannya dari awal, bukan membolehkannya. Mengapa ada dalil yang memperbolehkannya? Ini ibarat ada makanan yang sebenarnya beracun, tetapi tetap dibolehkan, sementara di saat yang sama ada larangan untuk memakan makanan yang beracun.

u/Low_Pianist_2067 — 7 days ago

Respons terhadap justifikasi neraka abadi yang satu ini. (YT short God and Beyond)

Sumber: https://www.youtube.com/shorts/KC9kH6z7mRw

Sebelum masuk ke bagian bantahan, aku sangat menyarankan channel God and Beyond, channel berkualitas yang membahas seputar filsafat agama, dan filsafat pada umumnya. YouTuber ini juga melihat dari kedua sisi dalam diskusi ateisme vs teisme, jadi presentasinya cukup fair.

Di video ini, dia membahas soal konsep neraka abadi. Nah, di bagian mendekati akhir video, dia memberikan argumen pembelaan terhadap neraka yang menurutku cukup menarik.

Sebelum itu, aku mau bilang dulu bahwa secara personal, aku tidak setuju bahwa orang yang tidak percaya Tuhan pantas dihukum, bahkan jika hukumannya finite sekalipun. Tapi ya, bukan itu yang sedang kita bahas. Jadi, for the sake of argument, anggap saja mereka memang pantas dihukum. Namun, apakah hukumannya harus selamanya?

Nah, ayo kita mulai.

Apa argumennya?

Bisa dilihat dari menit 1:21, tapi basically argumennya kurang lebih begini:

>“Tuhan menghukum orang yang tidak percaya selamanya karena Tuhan mengetahui bahwa seandainya orang tersebut dikembalikan ke dunia atau dihidupkan kembali, berapa kali pun dia dikembalikan, dia akan kembali tidak beriman atau berdosa. Itulah mengapa orang yang tidak beriman dimasukkan ke neraka selamanya.”

Kalau aku ga salah, sepertinya argumen ini berasal dari Islam, soalnya ayahku pernah menggunakan argumen yang sama. Tapi aku gatau sumber aslinya dari mana. Terlepas, ini tanggapanku.

Masalah dari justifikasi ini

1. Implikasi yang aneh

Menurutku, argumen ini memiliki implikasi yang agak aneh, yaitu orang yang tidak percaya Tuhan atau tidak beriman akan tetap tidak beriman meskipun sudah mengalami siksaan neraka. Ini aneh karena berarti semua manusia yang tidak beriman, entah apa alasannya, akan kembali tidak percaya Tuhan meskipun mereka sudah pernah mengalami siksaan neraka secara langsung.

Nah, mungkin ada counter-argument seperti ini:
"Mengembalikannya ke dunia di sini maksudnya adalah manusia tersebut menjalani hidupnya kembali dari awal, tapi tentunya tidak memiliki ingatan bahwa ini adalah hidup keduanya. Jadi maksudnya, orang yang tidak beriman sudah memiliki tendensi untuk menggunakan free-willnya untuk tidak beriman. Jadi, seandainya hidupnya diulang, diulang lagi, dan diulang lagi, dia akan tetap memilih jalan yang sama."

Menurutku, ini sudah menyelesaikan masalah dari implikasi yang aneh tadi, yaitu pertanyaan tentang bagaimana mungkin seseorang tetap tidak beriman padahal dia sudah pernah mengalami neraka secara langsung dan mengetahui konsekuensinya. Tapi menurutku, masih ada masalah lain.

2. Dengan logika yang sama, dosa apa pun bisa dianggap pantas mendapatkan hukuman yang kekal

Bukankah argumen ini bisa digunakan untuk semua dosa? Apalagi dosa-dosa yang sifatnya repetitif, baik kecil maupun besar. Malahan dosa tidak beriman itu sebenarnya salah satu dosa yang paling tidak repetitif. Jarang kan orang yang bolak-balik beriman lalu tidak beriman, atau sebaliknya. Ada, tapi relatif jarang.

Justru dosa-dosa seperti berzina, baik dengan mata, mulut, dan sebagainya, berkata kasar, judi, riba, alkohol, malas ibadah, marah, melukai hati orang lain, dan dosa-dosa lainnya, baik kecil maupun besar, jauh lebih repetitif.

Berdasarkan logika ini, bukankah justru pecandu, pembuli, orang yang suka berkata kasar, penjudi, pezina, dan orang yang melakukan dosa-dosa kecil secara repetitif lebih mungkin untuk kembali melakukan dosa tersebut jika mereka dikembalikan ke dunia?

Aku menganggap dosa-dosa tersebut bersifat repetitif ya karena buktinya banyak manusia yang mengulanginya, secara psikologis karena memang itu sangat lekat dengan hawa nafsu, yang jadinya repetitif. Ini berbeda dengan tidak beriman, jarang sekali berulang-ulang karena kepercayaan itu lebih absolut. Lantas, mengapa mereka hanya mendapatkan siksaan yang finite?

Kalau jawabannya:
"Ya, karena memang dalam keyakinan kami Tuhan mengetahui bahwa orang yang tidak beriman pasti akan mengulanginya lagi jika dihidupkan kembali, sedangkan dosa-dosa lainnya tidak seperti itu."

Oke, but why? Kenapa bisa seperti itu?

Kalau tidak ada alasan lebih lanjut dan argumen ini hanya bersandar pada klaim metafisik bahwa "orang yang tidak beriman pasti akan kembali tidak beriman jika hidupnya diulang", menurutku argumen ini bisa menjadi terlalu arbitrer. Karena kalau klaim seperti ini diterima begitu saja, kita bisa menggunakan logika yang sama untuk menjustifikasi hampir semua kepercayaan mengenai neraka apa pun, bahkan yang terlihat absurd.

Misalnya, aku bisa saja bilang:
"Pelaku genosida tidak masuk neraka selamanya, tapi orang yang berkata kasar masuk neraka selamanya."

Ketika orang bertanya, "Bukankah itu aneh dan tidak adil?", aku bisa menjawab:

"Karena kalau pelaku genosida dihidupkan kembali, dia akan bertobat. Sedangkan orang yang berkata kasar, kalau dihidupkan kembali, dia akan tetap berkata kasar. Maka dari itu dia di neraka selamanya."

Nah, jadi dengan cara ini, kita bisa menjustifikasi hampir segala macam kepercayaan yang aneh.

3. Mengapa takarannya harus berdasarkan apa yang akan dilakukan orang tersebut jika dihidupkan kembali?

Kalau tujuan kita adalah agar manusia yang tidak beriman tidak disiksa di neraka selamanya, sebenarnya ada banyak alternatif selain harus menghidupkan mereka kembali, yang ujung-ujungnya malah membuat mereka melakukan dosa lagi dan masuk neraka lagi. Salah satu contohnya adalah anihilasi, manusia tersebut jadi ga eksis lagi. Menurutku ini lebih baik daripada harus menyiksa seseorang di neraka untuk selamanya. Dengan begitu, dia juga tidak akan melakukan dosa lagi.

youtube.com
u/Low_Pianist_2067 — 8 days ago
▲ 19 r/CritiqueIslam+1 crossposts

The Biggest Problem with the Quranic Scientific Miracle Argument: Vague Compatibility

Disclaimer: This is a very long post. If you only want to understand the core argument, you can skip the Thought Experiments, Simple Analogies, and Application to Purported Scientific Miracle Verses sections, or you can just read some of them. These sections are mainly included to illustrate how the argument works, demonstrate that the problem exists, and show how to apply the argument in practice.

Structure:

  • The Scientific Miracle Argument
  • The Problem of Vague Compatibility
  • Thought Experiments (1 & 2)
  • Simple Analogies
  • Application to Purported Scientific Miracle Verses
  • Conclusion

The Scientific Miracle Argument:

P1: The Quran contains verses that are compatible with findings of modern science.
P2: This compatibility indicates that those verses are referring to scientific facts that were only fully understood in modern times.
P3: If these verses were authored by Muhammad, it would be highly improbable that he acquired such scientific knowledge through ordinary means, given the historical and social context in which he lived.
P4: Therefore, the most plausible explanation is that this knowledge originated from God.
Conclusion: Quran is from God.

Above is the scientific miracle argument as a whole. However, I will make a short Modus Ponens version that focuses on premise 1 and 2, since these premises are the most relevant to the argument and lead to a conclusion that is part of the bigger scientific miracle argument. It goes like this:

P1: If a Quranic verse is compatible with modern science, then that verse describes modern science.
P2: There are Quranic verses that are compatible with modern science.
Conclusion: Therefore, there are Quranic verses that describe modern science.

Those purported Quranic verses that describe modern science are the ones called scientific miracles. Now let's get into the argument.

The Problem of Vague Compatibility

The Problem of Vague Compatibility attacks the second premise of the whole scientific miracle argument, and the first premise in the shorter Modus Ponens version. The problem is the invalid inference that if a verse is compatible with modern science, then it must be referring to or describing that scientific fact. It's invalid because compatibility between two descriptions does not necessarily entail that they are describing the same thing, especially when we're comparing an ancient text to modern science, where making such a connection is an extraordinary claim. What happens with almost all of the proposed scientific miracle verses is that they are vague in two ways:

  1. The verse is, by itself, vague enough to be retrofitted to modern science.
  2. The verse is apparently not vague, or at least not vague enough, but reinterpretation, such as arguing over the meaning and semantics of the Arabic, is required to make it compatible with modern science. The same technique can also be used when the verse appears to be scientifically incorrect. In that case, they will argue over the meaning and semantics of the Arabic to reinterpret the verse and save it from being scientifically incorrect. But by allowing the meaning to be stretched in either direction, they reveal that the verse is actually vaguer than it initially appeared to be. Alternatively, they may ignore other possible interpretations when making the scientific claim, creating the impression that their interpretation is the only one, and only introduce another interpretation later to save the verse when their initial interpretation is shown to be scientifically incorrect.

This adds another aspect of the Problem of Vague Compatibility. Not only is the inference invalid, the vagueness of the verse itself makes the connection even harder to justify. When a statement is vague, it can cover a wide range of possible interpretations, which means it can be made compatible with so many different things. To prove that the verse really describes a modern scientific concept, you have to rule out the other non-miraculous possible references or prove that they're less plausible than the modern scientific one.

Next, I'll use a thought experiment and some analogies to demonstrate why compatibility alone isn't enough to justify the inference. Lastly, before the conclusion, I'll apply this argument to some of the purported scientific miracle verses.

Thought Experiment 1: An Ancient Person Knew the Sun Has an Orbit

Suppose you could travel back 1,000 years and ask the common people/general public:
"Does the Sun move along a specific path or pattern? Or does it orbit around something?"
Most likely, they would say yes.

Question:
Based on their answer, would you conclude that they were referring to the Sun's revolution around the Milky Way galaxy, thus proving that they somehow knew about a modern concept like the galaxy, despite it being scientifically understood much later?

Of course not. Even if their answer happens to be compatible with what we know about the Sun today, that doesn't mean they were referring to the modern scientific concept. Their statement doesn't tell us anything about the Milky Way, galaxies, or the specific model we have today.

The common people you asked could have been referring to:

  1. The apparent movement of the Sun across the sky, which would be obvious to anyone observing it.
  2. Geocentrism, the belief that the Earth is at the center of the universe and that celestial objects, including the Sun, orbit around the Earth. This was a common belief 1,000 years ago.

The first explanation is true, but not miraculous, while the second is scientifically inaccurate. Yet both are perfectly plausible interpretations of what they meant.

So, yes, they would technically be right that the Sun moves. Their statement is compatible with what we know today, but it is also compatible with explanations that are far more likely to be what they actually meant than modern astrophysics.

Thought Experiment 2: An ancient person knew that there is a danger that you cannot see.

An ancient myth said:
"There are dangers that you cannot see!"
There are many possibilities for what this could refer to:

  1. They could be talking about mythological or supernatural things, such as evil spirits or ghosts.
  2. They could mean it metaphorically in different contexts. For instance, the subtle danger of arrogance, a manipulative person pretending to love you while secretly wanting to use or harm you, or a future disaster.
  3. They could be talking about hazards in the natural environment, such as dangers in a forest that are difficult to detect. This is an obvious thing that anyone could think of.

All three of these are completely normal possibilities. None of them requires an advanced scientific reference that ancient people could not have known about.

But imagine that, over a thousand years later, after the discovery of germ theory, someone says:
"Oh my God! They knew about germ theory of disease! Pathogens like bacteria and viruses are dangerous, and we cannot see them. This myth knew about them before microscopes were even invented! How is this possible? It must be a miracle!"

Would you agree with that? Is it valid to conclude that just because "dangers you cannot see" is compatible with germ theory of disease, it therefore specifically refers to germ theory? Or is it far more likely, and requires fewer extraordinary assumptions, that it refers to one of the three possibilities I mentioned above?

Now, let's say you challenge them by saying:
"Hold on. Technically, we can see these things through a microscope, so it is wrong to say that we cannot see them."

When you disprove their interpretation, this is where they start arguing about semantics. They might say:
"Oh, 'you cannot see' here means you cannot see them with the naked eye, not that they cannot be seen in any possible way. So it's still true!"

You will see this happen on many occasions. They reinterpret the statement every time you point out a problem with their interpretation, just to make it compatible with the scientific fact.

This is an example of the second way of vagueness I mentioned earlier. The reinterpretation is used to save the interpretation whenever the verse appears to conflict with science, and connect it back to the science. By arguing that the wording means something slightly different, they can avoid the scientific problem, but at the cost of making the original meaning more vague.

Simple Analogies

Now l will use two simple analogies to demonstrate why compatibility does not mean specific reference.

First Analogy:
Suppose X is an integer between 1 - 100 (inclusive). Is the number 25 compatible with the definition of X? Yes. But does that it mean X is actually or specifically 25? No, it can be 20, 80, 99, etc. So I cannot say X is specifically 25 even if it's compatible without additional proof if there is a wide range of possibilities of what number X is.

Second Analogy:
Suppose Y is a color, and Y is not black. Can I say Y is certainly the color red, since red is not black, or in other words, compatible with Y? Not necessarily. Again, there are many possibilities. It can be green, brown, blue, yellow, etc. You have to rule out all of those possibilities before saying it is definitely red, even if it is compatible with red.

Application to Purported Scientific Miracle Verses

Now I will use this argument to refute some scientific miracle claims.

1. Sun and Moon's orbit

"And He is the One Who created the day and the night, the sun and the moon, each traveling in an orbit." 21:33. (Similar verses: 36:38-40, 39:5, 31:29, 35:13).

Many claim that this describes the modern heliocentric model of the solar system, and that the sun's orbit is referring to its orbit around the galaxy, which is only known in modern times. However, knowing that both the sun and moon have an orbit does not necessarily entail that this describes the modern model of the solar system. The verse never mentions what they orbit around, and the description is also compatible with the apparent movement of the sun and moon in the sky, as well as with a geocentric model. (Thought Experiment 1 is inspired by this.)

Furthermore, many of the verses about the sun and moon's motion, for some reason, never explicitly mention the Earth's motion. Instead, they seem to connect the day and night to the sun and moon's orbit (like the similar verses I mentioned). If this describes heliocentrism, we would expect the description to mention the Earth's motion, since it is very relevant to the heliocentric model and how day and night cycle works. Otherwise, other possible references are more likely.

2. Separation of Two Bodies of Water

"And He is the One Who merges the two bodies of water: one fresh and palatable and the other salty and bitter, placing between them a barrier they cannot cross." 25:53 (Similar verses: 55:19-20, 27:61)

The claim is that those verses describe this phenomenon, where you can clearly see that they are separated by different colors (you can look for more images on Google). The argument is that how could the author of the Quran have traveled through the ocean and found such a phenomenon? Some even argue further by saying that it describes halocline.

However, those verses do not tell you what the "barrier" exactly is, let alone the exact mechanism of the phenomenon. They also do not mention anything about the difference in colors, thus it's unjustified to infer that it describes the visible phenomenon I previously mentioned. What it talks about is a barrier separating fresh water from salt water. This has multiple possible references that are far more likely.

  • The barrier means dry land (supported by these tafseer)
  • It refer to the fact that salt and fresh water bodies do not spoil each other despite their connection (e.g river - sea) (supported by these tafseer)

The second possible reference is not extraordinary, since ancient people could have known that rivers stay fresh and seas stay salty without knowing the exact mechanism or encountering an estuary.

Furthermore, the Quran is not strictly accurate here. The idea that the two bodies of water cannot cross or mix is incorrect, since fresh and salt water do mix, but slowly. But this is where the meaning is often reinterpreted through the semantics of the Arabic terms, such as arguing that when the verse says "they cannot transgress" or "they cannot cross," it does not mean that the waters cannot mix at all. This is what I meant by "saving it from being scientifically incorrect" in the second type of vagueness I mentioned in the "Problem of Vague Compatibility" section.

3. The Big Bang

"Have those who disbelieved not considered that the heavens and the earth were a joined entity, and then We separated them" 21:30

This is one of the claims that has the biggest stretch that I don't think it's even compatible, but let's grant it. The heavens and the earth being separated is far from being precise enough to describe the Big Bang. So, what are the more likely possible references? Well, let's look directly at the tafseer.

>Do they not see that the heavens and the earth were joined together, i.e. in the beginning they were all one piece, attached to one another and piled up on top of one another, then He separated them from one another, and made the heavens seven and the earth seven, placing the air between the earth and the lowest heaven. Then He caused rain to fall from the sky and vegetation to grow from the earth.

>Sa`id bin Jubayr said: "The heavens and the earth were attached to one another, then when the heavens were raised up, the earth became separate from them, and this is their parting which was mentioned by Allah in His Book." Al-Hasan and Qatadah said, "They were joined together, then they were separated by this air."

Now let's look at the tafseer of At-Talaaq 65:12, since the verse is actually relevant regarding the seven heavens and seven earths.

>Ash-Shawkaani (may Allah have mercy on him) said: “and of the earth the like thereof” means, and He created the earth something like them, i.e., seven. There was a difference of opinion concerning the nature of the levels of the earth. Al-Qurtubi said in his Tafseer: They (the scholars) differed concerning them, and there are two opinions. One of them, which is the view of the majority, is that there are seven earths in layers, one above another, and between each two earths there is a distance like that between heaven and earth. Ad-Dahhaak said: They are in layers, one above another, with no gap in between, unlike the heavens. But the former view is more correct

From this, it is very obvious that what it describes is much closer to a mythological concept than to modern science. Furthermore, the separation of the heavens and earth is a recurring theme in many mythologies, and such narrations could have influenced Islamic cosmology. There is simply no reason to favor the Big Bang interpretation when the mythological reference much more closely resembles the description. The Big Bang interpretation is therefore baseless, as it requires imposing a modern scientific concept onto a description that has many other, far more likely possible references.

- INTERLUDE

So, I think you already get how the argument works. When a Muslim claims that a verse refers to a modern scientific concept based on mere compatibility, don't accept it immediately. First, look at the other possible references. If those non-miraculous references are far more likely, especially when supported by classical tafseer or historical context if you do not want to rely on the tafseer, then there is no reason to assume or infer that the author was describing a modern scientific concept.

This is exactly why I specifically use the Tafseer of Ibn Kathir from the quran.com source. It predates modern science and shows how these verses were understood at the time, before modern scientific discoveries could influence their interpretation. Ibn Kathir is also one of the most authoritative classical tafseers. Modern tafseers, such as Tazkirul Quran, aren't as useful for this purpose since they can retrofit the verses to fit concepts that are only known in modern times. Remember that the core point of the argument is not that these verses cannot be compatible with modern science, but that this compatibility doesn't give us enough reason to conclude that they were actually referring to modern scientific concepts, especially when other possible references are far more likely.

Now, I'll briefly refute three more claims without going into much detail about their possible references or providing the tafseer sources, since I think you can apply the same method yourself.

4. Volcanoes in the Sea

"And [by] the sea set on fire" 52:6 (similar verse: 81:6)

The scientific miracle claim is that this refers to underwater volcanoes, lava, and the likes in the ocean, only known in modern times. They claim that the word "fire" can mean lava or something hot. But this verse actually talks about what will happen on the Day of Judgment, where the sea will literally become fire or become very hot (classical interpretations differ), rather than describing a natural phenomenon that happens today.

5. Sky as Protection

"And We made the sky a protected ceiling, but they, from its signs, are turning away." 21:32 (similar verse: 41:12)

The scientific miracle claim is that this verse refer to the role of atmosphere protecting earth from hazards such as meteors, solar radiation, and the likes, only known in modern times. However, it says the sky is the one protected, not the one that is protective or protect the earth. This has multiple possible references:

  • Protected from the devils, which is also connected to how stars are used as missiles against them.
  • Protected from falling onto the Earth, since some commentators say that the sky was raised up.
  • Protected from destruction.

These are supported by classical tafseers.

6. Embryology

"And certainly did We create man from an extract of clay. Then We placed him as a sperm-drop in a firm lodging [i.e., the womb]. Then We made the sperm-drop into a clinging clot, and We made the clot into a lump [of flesh], and We made [from] the lump, bones, and We covered the bones with flesh; then We developed him into another creation. So blessed is Allāh, the best of creators."
23:12-14 (Similar verses: 22:5, 40:67. 75:37-38)

Muslims claim that this precisely aligns with modern embryology, but not necessarily. For example, in many tafseers, the word "alaqah" translated here can mean blood, which would make the description scientifically incorrect, as well as "leech-like" or "clinging clot." There are also many other details in the tafseer that you can look at yourself. In fact, there are interpretations suggesting that Islamic embryology was influenced by pre-existing embryological ideas.

Conclusion

First, and most importantly, compatibility does not necessarily entail a specific reference. Just because a statement is compatible with a modern scientific fact does not mean that it specifically refers to or describing that fact. Claiming that a statement or prophecy refers to something that could not have been known at the time, such as modern science, requires more evidence than mere compatibility, especially when the verse itself is vague enough to have many possible non-miraculous meanings.

If the same verse is also compatible with explanations that are far more likely and require fewer assumptions, especially extraordinary ones, then there is simply no reason to favor the modern scientific interpretation. You have to rule out the more likely possibilities first before saying that the verse specifically refers to a modern scientific concept. And doing that requires additional, more specific evidence.

In almost all cases, these "scientific miracle" verses can instead be understood as referring to things ancient people could have easily known, metaphors, metaphysical or supernatural ideas, simply obvious things about the world, or, in certain cases, scientifically incorrect or obsolete concepts such as myths.

u/Low_Pianist_2067 — 7 days ago

Masalah dari alasan babi haram karena DNA nya mirip dengan manusia.

Kurang lebih argumennya bisa dibuat dalam bentuk modus ponens seperti ini:

P1: Jika suatu hewan memiliki tingkat kemiripan biologis yang sangat tinggi dengan manusia, maka memakan hewan tersebut dapat dianggap secara moral mirip dengan kanibalisme.
P2: Babi memiliki tingkat kemiripan biologis yang sangat tinggi dengan manusia.
Kesimpulan: Memakan daging babi dapat dianggap secara moral mirip dengan kanibalisme.

Di sini aku tidak menolak premis kedua, yang kutolak adalah premis pertama.

Menurutku, kemiripan biologis yang tinggi dengan manusia tidak mengimplikasikan bahwa babi memiliki status moral yang sangat mirip dengan manusia hingga memakannya dianggap sebagai kanibalisme. Jika makan babi dianggap mirip dengan kanibalisme, apakah dengan logika yang sama membunuh babi juga mirip seperti membunuh manusia? Apakah kita harus memberikan hak dan status yang mirip dengan manusia kepada babi?

Selain itu, bagaimana dengan hewan lainnya seperti sapi yang memiliki kemiripan DNA yang tinggi (80%)? Jika alasannya adalah karena tidak setinggi babi, itu benar. Masalahnya, kenapa harus setinggi babi untuk dikatakan "mirip dengan kanibalisme"? Mengapa tidak 80%? Mengapa tidak semua hewan yang kemiripannya di atas atau sama dengan 50% kita anggap sebagai "setengah manusia", bukankah begitu?

Masalah lain, agar argumennya bekerja, Muslim perlu menerima teori evolusi. Prof. Zulys sih mungkin menerimanya, tapi banyak Muslim yang masih menolak teori evolusi. Alasan kenapa manusia sangat mirip dengan babi ya karena babi dan manusia berarti memiliki common ancestor yang sama di masa lalu. Tentu tradisi Islam menolak ini karena manusia 100% dari adam dan hawa saja tanpa common ancestor sebelumnya.

Di sisi lain, aku setuju dengan Prof. Zulys di bagian akhir. Kalau memang tidak ada alasan yang jelas, ya tidak usah dipaksakan agar ada alasannya. Islam sendiri tidak memberikan alasannya secara eksplisit. Akui saja kalau memang tidak semua aturan agama memiliki justifikasi yang rasional. Apakah bermasalah jika ada aturan agama yang tidak memiliki justifikasi yang rasional? Nah itu beda topik diskusi.

youtube.com
u/Low_Pianist_2067 — 11 days ago
▲ 104 r/IndoExMuslim+2 crossposts

Perbedaan ketiga jenis Muslim (simplified)

Walaupun jelas nggak berlaku untuk semua orang atau semua kasus, menurutku pola seperti ini cukup sering terjadi. Gambar di atas cuma simplifikasi untuk menunjukkan bagaimana tiga tipe Muslim, yaitu mantan Muslim, Muslim fundamentalis, dan Muslim liberal/moderat, merespons ke ajaran atau praktik yang kontroversial, yang diwakili oleh variabel X. Jadi, ini bukan kategori yang benar-benar baku, cuma cara sederhana untuk menggambarkan fenomena yang lebih umum.

Contoh simpel: kepercayaan bahwa manusia semuanya berasal dari Adam dan Hawa, dan bahwa Adam dan Hawa tidak dilahirkan, melainkan langsung diciptakan oleh Tuhan. Ini bertentangan dengan teori evolusi.

Kalau kamu tanya Muslim fundamentalis atau konservatif, mereka akan setuju bahwa Islam menolak teori evolusi. Menurutku, di sini mereka lebih benar. Kalau kita melihat konsensus Islam dan pandangan ulama-ulama terdahulu, pandangan yang paling kuat adalah bahwa Adam dan Hawa memang tidak dilahirkan, alias pandangan yang bertentangan dengan teori evolusi modern. Namun, apakah mereka menerima teori evolusi sebagai kenyataan? Jawabannya: tidak.

Kalau kamu tanya Muslim "moderat" atau liberal, jawabannya justru kebalikannya. Mereka menerima bahwa teori evolusi adalah kenyataan dan didukung oleh bukti-bukti. Di sisi ini, bagus bahwa mereka menerima sains modern. Tapi mereka melakukan reinterpretasi terhadap Islam agar Islam bisa sejalan dengan sains modern, walaupun pemahaman atau interpretasi mereka malah bisa jadi menyimpang atau kontradiktif dengan apa yang sebenarnya dikatakan oleh Islam.

Aku suka bilang ini:

>"Interpretasi yang benar bukan ditentukan oleh mana yang paling moral, mana yang paling sesuai dengan sains, atau mana yang paling masuk akal. Interpretasi yang benar ditentukan oleh mana yang paling sesuai dengan dalil dan didukung oleh para ahlinya, seperti empat imam mazhab, misalnya."

Nah dari sini tau kan bedanya antara "Islam teaches X" dengan "X is bad/false"?
Ini sebenernya berkaitan dengan post ku yang ini:
https://www.reddit.com/r/IndoExMuslim/comments/1vgzga5/kritik_pola_pikir_sebagian_muslim_12_pernyataan/
dimana aku bilang:

>Menurutku salah-satu alasan kenapa banyak Muslim yang jadi menyimpang, liberal, sugarcoating Islam, salah paham, ya intinya ga sejalan dengan interpretasi yang akurat lah, itu karena mereka gabisa membedakan atau mencampur-adukkan kedua pertanyaan ini:

>1. "Apakah Islam mengajarkan X?"
2. "Apakah X itu benar/moral/sesuai dengan realitas?"

>Itu kedua pertanyaan yang berbeda, lengkapnya nanti ku bahas di bagian 2.

(Ini bukan bagian 2, suatu saat akan ku bikin)

u/Low_Pianist_2067 — 9 days ago

Kritik Pola Pikir Sebagian Muslim 1/2: Pernyataan "Jangan salah agamanya, salah kan orangnya/pemahamannya/interpretasinya" adalah pernyataan yang tidak bisa dijadikan sebagai prinsip absolut.

Aku pernah bahas hal yang serupa di post ini, dan ini lebih pendek:
https://www.reddit.com/r/IndoExMuslim/comments/1qtvhkv/begging_the_question_fallacy_yang_umum_muncul/
Tapi aku kurang puas dengan post itu, jadi aku mau bikin lagi.

Argumen ini sebenarnya lebih ditujukan ke Muslim Liberal & Moderat, bukan yang konservatif atau puritan

Konteks:

Pernah kah kalian ketika sedang mengkritik Islam, atau membawa bukti untuk menunjukkan ajaran Islam itu memiliki masalah, entah itu sains, moral, dan lainnya, beberapa Muslim membalas dengan bilang:

>"Jangan salahkan agamanya, salahkan interpretasinya/penganutnya"

Atau misal kalian nemu Muslim yang prinsipnya seperti ini:

>"Kalau aku nemu ulama atau dai yang bilang Islam ajarin begini begitu, dan ternyata ku lihat ajarannya buruk, reaksi ku sih simpel, yang salah pemahaman mereka, bukan agamanya"

Nah menurutku pernyataan seperti itu bisa benar. Tapi kalau dijadikan prinsip absolut yang dipakai setiap ada kritik, itu jadi bermasalah. Ga sedikit Muslim Indo yang ku lihat menjadikannya sebagai asumsi awal, seolah-olah setiap ajaran yang kelihatan buruk pasti hasil salah tafsir.

Masalahnya dimana?

Ketika ada suatu interpretasi dari suatu klaim yang dibuat oleh agama, maka akan ada dua kemungkinan:

  1. Itu adalah misinterpretasi, atau dengan kata lain agamanya tidak mengajarkan atau membuat klaim tersebut.
  2. Itu memang interpretasi yang akurat/benar, atau dengan kata lain memang itu ajaran agamanya.

Masalah dari pakai prinsip "yang salah umatnya" setiap ada interpretasi yang menunjukkan Islam mengajarkan hal yang dianggap buruk adalah prinsip itu menutup kemungkinan kedua dan selalu mengasumsikan bahwa kemungkinan pertama pasti benar. Padahal, kalau kita mau lebih jujur dan konsisten, kita harus mengakui bahwa kedua kemungkinan itu sama-sama bisa terjadi.

Kalau prinsip itu dipakai setiap saat atau dijadikan asumsi awal (presupposition), secara logis itu mengimplikasikan bahwa mereka sudah mengasumsikan Islam adalah agama yang sempurna atau Islam ga pernah salah. Padahal, pernyataan "Islam itu agama yang sempurna/ga pernah salah" justru sedang diperdebatkan. Kita membawa dalil yang menunjukkan adanya ajaran yang buruk itu memang untuk mempertanyakan klaim tersebut.

Kok aku bisa bilang mereka mengasumsikan Islam ga pernah salah? Ya lihat saja implikasi logisnya. Kalau setiap ajaran yang dianggap buruk selalu langsung diasumsikan sebagai "yang salah umatnya, bukan agamanya", berarti kan artinya setiap klaim yang terlihat buruk pasti dianggap sebagai hasil misinterpretasi atau kesalahpahaman. Maknanya, mereka mengasumsikan bahwa tidak mungkin agama Islam mengajarkan atau membuat klaim yang buruk/salah.

Pertanyaannya, asumsi itu didasarkan pada apa? Ya apa lagi kalau bukan pada anggapan bahwa Islam adalah agama yang sempurna atau ga pernah salah. Padahal, itulah yang sedang diperdebatkan. Kalau klaim yang sedang diperdebatkan justru dijadikan asumsi awal atau premis, itu namanya begging the question fallacy (atau circular reasoning). Makanya, respons "salahkan umatnya, bukan agamanya" nggak bisa dijadikan prinsip yang berlaku secara absolut.

Jadi harusnya pernyataan itu diperlakukan seperti apa?

Menurutku harusnya "Ini salah umatnya, bukan agamanya" dijadikan salah-satu dari dua kemungkinan, bukan dijadikan prinsip yang absolut. Ketika kalian menemukan ulama, dai, tafsir, atau interpretasi yang mengklaim bahwa X, Y, atau Z itu diajarkan Islam, ya ada dua kemungkinan:

Antara itu memang misinterpretasi atau kesalahpahaman (kemungkinan 1), atau itu memang interpretasi yang akurat sehingga itu hal yang memang diajarkan oleh Islam (kemungkinan 2), seperti yang aku udah bilang di bagian awal.

Nah dari sini ya kita cari tahu mana yang benar. Apakah interpretasinya didukung dalil? Sesuai konteks? Apakah ulama-ulama yang ada ilmunya menyepakati interpretasi tersebut atau justru lebih banyak menolaknya?

Kalau ternyata interpretasinya ga sesuai dengan dalil, konteks, atau kontradiktif dengan pandangan banyak ulama apalagi ulama-ulama terhadulu, ya maka bisa dikatakan itu misinterpretasi. Kalau ternyata sejalan atau didukung, ya bisa dikatakan itu interpretasi yang akurat atau paling tidak diterima sehingga masih menjadi bagian dari Islam, whether you like it or not.

Aku bold itu karena menurutku salah-satu alasan kenapa banyak Muslim yang jadi menyimpang, liberal, sugarcoating Islam, salah paham, ya intinya ga sejalan dengan interpretasi yang akurat lah, itu karena mereka gabisa membedakan atau mencampur-adukkan kedua pertanyaan ini:

  1. "Apakah Islam mengajarkan X*?"*
  2. "Apakah X itu benar/moral/sesuai dengan realitas?"

Itu kedua pertanyaan yang berbeda, lengkapnya nanti ku bahas di bagian 2.

Kesimpulan

Jadi, kesimpulanku bukan: "Kalau begitu setiap ada ajaran yang dianggap buruk, berarti itu pasti ajaran asli Islam." Aku juga menolak pernyataan itu. Aku ga menolak bahwa misinterpretasi atau kesalahpahaman memang bisa terjadi.

Poinku itu simpel: jangan jadikan salah satu kemungkinan sebagai prinsip yang absolut. Jangan mengasumsikan bahwa setiap ajaran yang dianggap buruk pasti misinterpretasi, tapi jangan juga mengasumsikan bahwa setiap ajaran yang dianggap buruk pasti merupakan ajaran asli Islam.

Kalau belum jelas mana yang benar, jangan langsung mengambil kesimpulan. Biarkan dalil, konteks, dan akurasi interpretasinya yang menjadi dasar untuk menentukannya, bukan asumsi yang sudah dibuat sejak awal.

reddit.com
u/Low_Pianist_2067 — 14 days ago

Ketika Sains dalam Islam dikritik, ada beberapa Muslim yang bawa-bawa Islamic Golden Age, menurutku itu ga relevan.

Ketika ada orang yang mengkritik sains dalam Islam, misal di Al-Quran, atau di Hadis, dan semacamnya, ga jarang Muslim yang bakal bilang kurang lebih begini:

>Kalau Islam ga saintifik, kok bisa ada Islamic Golden Age? Itu bukti bahwa Islam tidak anti-sains!

Dan menurut saya ini respon yang tidak relevan, berikut alasannya:

Alasan pertama: Islamic Golden Age tidak menentukan apa yang diajarkan Islam

Seseorang yang mengkritik sains dalam Islam itu sedang mengkritik konten atau ajaran yang ada di agama Islam itu sendiri. Sedangkan Islamic Golden Age itu adalah periode ketika banyak ilmuwan dan pemikir Muslim mengalami kemajuan. Itu kan dua hal yang berbeda. Yang satu membahas apa yang diajarkan oleh Islam, sedangkan yang satunya membahas apa yang diyakini atau dilakukan oleh umat Muslim. Apa yang diyakini oleh Muslim belum tentu mencerminkan apa yang diajarkan agamanya, atau belum tentu mereka mempercayai sesuatu karena agamanya.

Ini ibarat bilang kalau Kristen itu pro-Big Bang hanya karena ilmuwan yang mengusulkan teori Big Bang itu beragama Kristen. Kan nggak nyambung. Hanya karena dia Kristen bukan berarti keyakinan atau teorinya berasal dari ajaran Kristen.

Kalau misalnya aku bilang, "Muslim itu pemikirannya mundur semua," nah baru relevan kalau Islamic Golden Age dipakai sebagai bantahan. Karena yang sedang dibahas adalah pemikiran umat Muslim.

Tapi di sini yang dikritik adalah ajaran agamanya. Ajaran agama tidak secara langsung bergantung pada pemikiran atau perilaku umatnya.

Kalau logikanya begini:

>"Karena ada masyarakat Muslim yang pemikirannya saintifik, maka Islam juga harusnya saintifik."

Berarti kebalikannya juga harusnya berlaku dong?

>"Karena ada masyarakat Muslim yang pemikirannya anti-saintifik, maka Islam juga harusnya anti-saintifik."

Apakah mau setuju dengan itu? Padahal banyak Muslim sendiri yang bilang:

>"Umatnya belum tentu mencerminkan agamanya."

Dimana aku setuju, nah maka dari itu kita harus konsisten. Kalau ga mau perilaku atau pemikiran buruk umat dihubung-hubungkan ke Islam, jangan juga menghubung-hubungkan hal-hal baik yang dilakukan umat sebagai bukti bahwa Islam pasti mengajarkan hal itu.

Alasan kedua: Beda zaman, beda pemahaman sains.

Sains pada zaman Islamic Golden Age jelas berbeda dengan sains modern. Walaupun mereka maju untuk standar zamannya, bukan berarti semua teori atau pemahaman ilmiah yang mereka yakini itu benar. Hal yang sama juga berlaku untuk peradaban lain, kayak Golden Age India, Yunani Kuno, dan sebagainya. Jangan menganggap semua "sains" yang mereka miliki saat itu sudah sesuai dengan sains modern, karena masih banyak yang terbukti keliru.

Ini penting karena kebanyakan kritik saintifik terhadap Islam berfokus pada kontradiksi antara klaim-klaim Islam tentang alam dengan temuan sains modern. Sedangkan banyak konsep dalam sains modern memang belum ada pada masa Islamic Golden Age.

Contoh paling umum teori evolusi. Islam pada umumnya menolak bahwa manusia merupakan keturunan makhluk non-manusia dan bahwa manusia memiliki nenek moyang bersama dengan kera modern. Nah itu kan konsep dalam biologi evolusi modern yang belum dikenal pada masa Islamic Golden Age. Jadi ya ga nyambung kalau ngebawa-bawa Golden Age sebagai bantahan.

Yang namanya kritik terhadap ajaran agama ya fokusnya ke ajaran agamanya, interpretasi ayat-ayat tersebut, yang dilihat para ahli-tafsir, ulama-ulama yang paham agama. Kalau ingin membantah ya mainnya disitu, bukan bawa-bawa kondisi masyarakatnya.

u/Low_Pianist_2067 — 15 days ago

Hadis bolehnya ambil wudu dari air yang ada mayat anjing.

https://sunnah.com/abudawud:66

Mungkin ada yang lebih tahu, ini konteksnya apa ya? Kok bisa air sumur yang ada mayat anjingnya boleh dipakai untuk ambil wudu (karena suci). Kalaupun yang dimaksud suci ini adalah suci secara spiritual, ya tetap bahaya ga sih ambil wudu di air gitu? Bukankah harusnya Allah tau bahayanya dan memberi peringatan terhadap Muhammad soal ini?

u/Low_Pianist_2067 — 16 days ago

Nuclear reaction is just "fire" on steroids.

  • Both can be hot and glow (fire, nuclear explosions, and stars).
  • Both require "fuel."
  • Both are very important for technology and industry.
  • Both produce waste or byproducts.
  • Both are in a way associated with Prometheus (The theft of fire & American Prometheus).
  • Both are things humans commonly see (the Sun and stars are powered by nuclear reactions).

But nuclear is certainly hotter and brighter, basically we got premium fire.

u/Low_Pianist_2067 — 18 days ago

Post dan Komen Denial dengan 72 bidadari

Sumber: https://www.instagram.com/p/DbIUj3mJ-Tp/

Entah kenapa sekarang udah lumayan banyak Muslim yang cuman pengen terima apa yang ada di Al-Quran dan kalau Hadis milih-milih banget. Walaupun mereka ga sampai ke tahap Quranis, hanya cherry picking hadis saja. Padahal Hadis itu sumber kedua Islam dan kalau udah sahih dan hasan itu dianggap bagian dari Islam. Banyak ajaran Islam itu sebenernya datangnya dari hadis, karena Al-Quran itu biasanya ngasih informasi atau perintah umum, detailnya kebanyakan di Hadis.

Soal 72 Bidadari, memang tidak ada di Al-Quran, Al-Quran menyebutkan hoor al-ain saja, tapi soal jumlahnya memang tidak. Narasi 72 Bidadari ini berasa dari hadis hasan Tirmidzi and Ibnu Majah. Tapi ini berlaku untuk orang yang mati syahid, bukan average Muslim. Dan dilihat dari hadisnya, ini literal, tidak simbolik.
https://rumaysho.com/15391-jumlah-istri-di-surga.html
Seperti yang aku bilang, ini pola yang umum di Al-Quran, Al-Quran kasih informasi umum, lalu Hadis menjelaskan detailnya.

Nah ini salah satu hal yang ku ga suka dari sebagian Muslim seperti yang saya sudah katakan pada post ini:
https://www.reddit.com/r/IndoExMuslim/comments/1qtvhkv/begging_the_question_fallacy_yang_umum_muncul/

Banyak Muslim yang ketika menemukan hal yang menurut mereka bermasalah, mereka langsung mengasumsikan bahwa ini pasti salah interpretasi, out of context, dan semacamnya.
Slogannya: "Yang salah orangnya, bukan agamanya".
Masalahnya bukan percaya misinterpretasi, aku ga menolak kalau agama bisa di misinterpretasi. Yang ku masalahkan itu mereka ga mau membuka kemungkinan untuk menerima kalau itu memang ajaran Islam.

Padahal kita harusnya membuka dua kemungkinan, memang itu misinterpretasi, atau memang ternyata itu interpretasi yang benar/memang ajaran Islam. Kalau memang ajaran yang mereka anggap problematik ternyata interpretasi yang benar, ya terima apa adanya, tinggal pilih, apakah masih mau meyakini Islam dengan menjustifikasi ajaran tersebut, atau ingin menolak.

u/Low_Pianist_2067 — 27 days ago

"Sains itu kan berubah/berkembang, jadi bisa saja teori evolusi di masa depan salah!"

Itu adalah argumen yang sering dilontarkan oleh sebagian Muslim sebagai alasan untuk menolak teori evolusi dan fakta sains lainnya yang bertolak belakang dengan Islam. Logika mereka seperti ini:

>"Sains itu bisa berubah (dalam artian, akan merubah teorinya agar sesuai dengan bukti baru), teori yang diterima saat ini bisa saja terbukti salah di masa depan. Oleh karena itu, untuk apa saya menerima teori evolusi? Bisa saja di masa depan itu terbukti salah bukan?"

I'll give credit where credit is due, memang benar sains itu berkembang. Contohnya, zaman dahulu kita mengira penyebab penyakit adalah teori miasma, ternyata terbukti salah dan menjadi teori kuman penyakit. Dulu, kita kira api itu disebabkan oleh phlogiston, tapi ternyata karena oksigen (atau lebih lengkapnya lihat fire tetahedron). Walaupun begitu, ada masalah yang sangat fatal dari logika ini, dan saya akan gunakan reductio ad absurdum untuk membuktikannya. Masalah ini tidak hanya ada pada konteks sains, tapi bidang apapun dimana bukti baru bisa mengubah keyakinan sebelumnya.

Masalah pertama: Ilmu pengetahuan menjadi stagnan.

Sekarang bayangkan jika logika ini diterapkan secara konsisten pada hal lain.

Bayangkan seorang penganut bumi datar berkata:

>"Sains itu bisa berubah. Bisa saja di masa depan teori bumi bulat terbukti salah, lalu bumi datar yang benar."

Atau seseorang yang percaya pada makhluk mitologi seperti naga berkata:

>"Memang sekarang belum ada bukti keberadaan naga. Tapi bisa saja di masa depan terbukti, jadi saya tetap percaya naga itu ada."

Jika logika ini dianggap valid, lalu apa yang membedakan klaim yang didukung bukti dengan klaim yang hanya mengandalkan kemungkinan? Penganut bumi datar, orang yang percaya naga, goblin, atau bahkan bumi berbentuk kura-kura raksasa, semuanya bisa menggunakan alasan yang sama untuk mempertahankan keyakinannya.

Konsekuensinya, ilmu pengetahuan akan menjadi stagnan. Sebanyak apa pun bukti yang mendukung suatu teori, orang cukup menjawab, "siapa tahu nanti berubah." Padahal, jika pola pikir seperti ini selalu digunakan setiap kali ada penemuan yang bertentangan dengan keyakinan lama, bagaimana mungkin pengetahuan dan peradaban manusia bisa berkembang?

Masalah kedua: Dilema kesimpulan (jalan buntu)

Pada contoh ini saya akan menggunakan Islam untuk menunjukkan bahwa logika ini justru berbalik merugikan upaya membuktikan Islam itu sendiri.

Misalkan ada dua orang, A dan B, yang sedang berdebat apakah Islam benar atau tidak. Keduanya sama-sama menggunakan logika bahwa bukti yang ada saat ini bisa berubah di masa depan, sehingga kesimpulan saat ini belum tentu benar. Anggap saja kebenaran Islam bergantung pada suatu variabel X (ini hanya permisalan untuk mempermudah demonstrasi).

Tahun 2000: (X terbukti benar)
A: "Islam salah, karena bukti saat ini menunjukkan bahwa X benar."
B: "Belum tentu. Bukti baru bisa saja muncul di masa depan. Bisa jadi nanti X terbukti salah, sehingga Islam kembali terbukti benar. Karena itu saya tetap percaya Islam."

Tahun 2001: (Bukti baru menunjukkan bahwa X ternyata salah)
B: "Nah, sekarang X terbukti salah. Berarti Islam benar."
A: "Belum tentu. Bukti bisa berubah lagi. Bisa saja nanti muncul bukti baru yang menunjukkan X sebenarnya benar. Karena itu saya tetap percaya Islam salah."

Tahun 2002: (Bukti baru kembali menunjukkan X benar)
A: "Sekarang X benar lagi, berarti Islam salah."
B: "Belum tentu. Bukti bisa berubah lagi. Saya tetap percaya Islam benar."

Tahun 2003: (X kembali terbukti salah)
B: "Sekarang Islam benar."
A: "Belum tentu. Bukti bisa berubah lagi."

Jadi, sebenarnya siapa yang benar?

Jika Anda memilih A, pendukung B akan berkata, "Tunggu saja, bukti bisa berubah." Sebaliknya, jika Anda memilih B, pendukung A juga akan memberikan jawaban yang sama.

Akibatnya, tidak akan pernah ada kesimpulan yang bisa diterima. Setiap kali bukti baru muncul, pihak yang posisinya melemah cukup mengatakan, "nanti juga bisa berubah lagi." Jika logika ini diterapkan secara konsisten, maka tidak ada bukti yang akan pernah cukup untuk membenarkan ataupun menyalahkan suatu klaim. Pada akhirnya, diskusi hanya berputar tanpa pernah mencapai kesimpulan.

Dimana letak permasalahannya?

Permasalahannya adalah logika ini tidak mendasarkan keyakinan pada bukti yang tersedia saat ini, melainkan pada kemungkinan yang masih terbuka di masa depan. Dasarnya adalah "bisa saja nanti berubah", yaitu sebuah andaian, bukan bukti. Akibatnya, keyakinan menjadi tidak memiliki pijakan yang stabil karena bergantung pada sesuatu yang belum tentu terjadi, dan sekalipun terjadi, bisa saja berubah lagi sehingga kesimpulan menjadi buntu (seperti yang saya tunjukkan pada masalah kedua).

Yang seharusnya dilakukan adalah menerima kesimpulan yang paling didukung oleh bukti yang ada saat ini, sambil tetap terbuka untuk merevisinya jika suatu hari benar-benar muncul bukti yang lebih kuat. Dengan begitu, keyakinan kita selalu memiliki dasar yang jelas, bukan sekadar spekulasi tentang masa depan. Justru itulah cara pengetahuan berkembang. Kita maju bukan karena menolak mengubah keyakinan, melainkan karena bersedia mengubahnya ketika bukti yang lebih baik benar-benar tersedia.

reddit.com
u/Low_Pianist_2067 — 1 month ago

Criticizing what Muhammad did as a theological critique is NOT presentism fallacy.

Context:

When we criticize Islam by pointing out that The Prophet has done something immoral such as slavery and child-marriage, some Muslims will accuse us of committing presentism fallacy, aka being a presentist. The definition of presentism fallacy is:

>The presentism fallacy is the error of evaluating past events, ideas, or people using modern-day moral standards, values, and cultural norms. It assumes that historical figures had access to today’s information and should have abided by contemporary beliefs, leading to a distorted or biased understanding of history

Yes, this is a real fallacy. However, the problem is that presentism fallacy is concerned with a different question than what most criticism of Muhammad intend for.

First Problem: Misunderstanding the meaning of the fallacy.

Presentism fallacy is concerned with how you judge people, ideas, and the likes for what they've practiced or believed, but it does not tell you whether what they practiced or believed was true/good. Being an anti-presentist means that you can't recklessly judge people of the past AS IF they have modern knowledge, but that does not necessarily mean what they did or believe in is right.

Examples of being a presentist:

  • Saying that ancient people are stupid for believing that the Earth was flat, despite the fact that they do not have the available knowledge or technology to know the Earth was a globe.
  • Saying that scientists back then are incompetent for believing in the miasma theory and not the germ theory.
  • Saying that people in ancient times are uniquely evil for practicing slavery, despite the fact that they lived in a society where slavery is normalized.

These are presentism fallacies because you're unfairly judging people as if they know modern concepts, rather than to consider their situation/circumstance that might lead to such thinking. But does that mean what they believe in, such as flat-earth, miasma, and justification of slavery, is true?

The answer is no, because the point of that is to explain why people at that time believed or did such things, NOT to claim what they believed was right. So yes, you can say:

"Ancient people aren't necessarily stupid for believing in flat-earth, but flat-earth is still wrong."
or
"Ancient people aren't necessarily uniquely evil for practicing slavery, but slavery is still morally wrong, even at that time."

Likewise, in the case of Muhammad, we can say:
"Muhammad is not uniquely evil for enslaving people and marrying a child, since at that time it was normalized, but those practices are still morally wrong."

And I think most criticism of Muhammad is intended to evaluate whether the practices Muhammad engaged in was moral or not. So It is concerned with the morality of the practice itself, which is not what presentism fallacy is concerned with. IF someone say that Muhammad was an evil or a cruel person for doing all those things, or that he's blameworthy, then yes, I can agree that the person might be committing presentism fallacy. But saying "what Muhammad did was immoral" is certainly not.

My point is not that you cannot disagree with the claim that slavery and child-marriage or what Muhammad did at that time was wrong, my point is that criticizing Muhammad in that matter is not presentism fallacy. So you need other arguments if you want to disagree with that claim. Bringing the fact that society considered it moral at that time doesn't prove that it is actually moral/true at that time (unless you're a normative moral relativists), it only tells you what society thinks regardless of whether it's true or not.

Second Problem: The theological claim regarding Muhammad made anti-presentism less applicable.

If the discussion is about historical Muhammad, then it applies just like it does to any historical figure. However, almost all criticism of Muhammad is intended as a theological critique. In other words, it criticize the theological Muhammad, the Muhammad who is believed to have received revelation from God and supposedly possessed superior moral knowledge.

At the first problem I mentioned that:

>These are presentism because you're unfairly judging people as if they know modern concepts, rather than to consider their situation/circumstance that might lead to such thinking.

This means that the reason why we can't judge them like that is precisely because they're ordinary humans capable of holding a mistaken belief. Of course, we cannot expect them to know the truth as we do today because of the limitations imposed by their circumstances. In other words, saying, "They should've known better" does not necessarily apply to them.

As for Muhammad, that would be a very different case if we accept the theological premise. Muhammad received revelation from an all-good and all-knowing God himself, so he should've acquired the best possible moral knowledge, knowledge far superior to modern moral understanding.

If you believe that child-marriage and slavery at 6-7th century Arabia were still immoral, then saying:

>"Muhammad mistakenly think child-marriage and slavery is justified because of society"

doesn't apply because then it means God didn't properly told him that it's wrong. In this case, saying "he should've known better" absolutely apply since he has the capability to know due to his status as a Prophet.

So then the next move is this:
Reject the claim that child-marriage and slavery was immoral at the 6-7th century Arabia, and prove that it was in fact moral.

Which means the discussion is no longer about judging the historical actor (where the presentism fallacy would be relevant), but about the moral status of the acts themselves, a question of moral philosophy.

TLDR:

The main point is that the presentism fallacy only concerns whether it is fair to judge historical people by modern standards; it does not determine whether the actions themselves were morally right or wrong. Therefore, appealing to presentism alone does not answer criticisms that slavery or child marriage are immoral. Moreover, if Muhammad is understood theologically as a prophet guided by an all-knowing and perfectly good God, then defending his actions by saying he was merely a product of his time is less applicable. In that case, the debate shifts from historical context to the moral status of the actions themselves.

reddit.com
u/Low_Pianist_2067 — 1 month ago

Criticizing what Muhammad did as a theological critique is NOT presentism fallacy.

Context:

When we criticize Islam by pointing out that The Prophet has done something immoral such as slavery and child-marriage, some Muslims will accuse us of committing presentism fallacy, aka being a presentist. The definition of presentism fallacy is:

>The presentism fallacy is the error of evaluating past events, ideas, or people using modern-day moral standards, values, and cultural norms. It assumes that historical figures had access to today’s information and should have abided by contemporary beliefs, leading to a distorted or biased understanding of history

Yes, this is a real fallacy. However, the problem is that presentism is concerned with a different question than what most criticism of Muhammad intend for.

First Problem: Misunderstanding the meaning of the fallacy.

Presentism is concerned with how you judge people, ideas, and the likes for what they've practiced or believed, but it does not tell you whether what they practiced or believed was true/good. Being an anti-presentist means that you can't recklessly judge people of the past AS IF they have modern knowledge, but that does not necessarily mean what they did or believe in is right.

Examples of being a presentist:

  • Saying that ancient people are stupid for believing that the Earth was flat, despite the fact that they do not have the available knowledge or technology to know the Earth was a globe.
  • Saying that scientists back then are incompetent for believing in the miasma theory and not the germ theory.
  • Saying that people in ancient times are uniquely evil for practicing slavery, despite the fact that they lived in a society where slavery is normalized.

These are presentism because you're unfairly judging people as if they know modern concepts, rather than to consider their situation/circumstance that might lead to such thinking. But does that mean what they believe in, such as flat-earth, miasma, and justification of slavery, is true?

The answer is no, because the point of that is to explain why people at that time believed or did such things, NOT to claim what they believed was right. So yes, you can say:

"Ancient people aren't necessarily stupid for believing in flat-earth, but flat-earth is still wrong."
or
"Ancient people aren't necessarily uniquely evil for practicing slavery, but slavery is still morally wrong, even at that time."

Likewise, in the case of Muhammad, we can say:
"Muhammad is not uniquely evil for enslaving people and marrying a child, since at that time it was normalized, but those practices are still morally wrong."

And I think most criticism of Muhammad is intended to evaluate whether the practices Muhammad engaged in was moral or not. So It is concerned with the morality of the practice itself, which is not what presentism fallacy is concerned with. IF someone say that Muhammad was an evil or a cruel person for doing all those things, or that he's blameworthy, then yes, I can agree that the person might be committing presentism fallacy. But saying "what Muhammad did was immoral" is certainly not.

My point is not that you cannot disagree with the claim that slavery and child-marriage or what Muhammad did at that time was wrong, my point is that criticizing Muhammad in that matter is not presentism fallacy. So you need other arguments if you want to disagree with that claim. Bringing the fact that society considered it moral at that time doesn't prove that it is actually moral/true at that time (unless you're a normative moral relativists), it only tells you what society thinks regardless of whether it's true or not.

Second Problem: The theological claim regarding Muhammad made anti-presentism less applicable.

If the discussion is about historical Muhammad, then it applies just like it does to any historical figure. However, almost all criticism of Muhammad is intended as a theological critique. In other words, it criticize the theological Muhammad, the Muhammad who is believed to have received revelation from God and supposedly possessed superior moral knowledge.

At the first problem I mentioned that:

>These are presentism because you're unfairly judging people as if they know modern concepts, rather than to consider their situation/circumstance that might lead to such thinking.

This means that the reason why we can't judge them like that is precisely because they're ordinary humans capable of holding a mistaken belief. Of course, we cannot expect them to know the truth as we do today because of the limitations imposed by their circumstances. In other words, saying, "They should've known better" does not necessarily apply to them.

As for Muhammad, that would be a very different case if we accept the theological premise. Muhammad received revelation from an all-good and all-knowing God himself, so he should've acquired the best possible moral knowledge, knowledge far superior to modern moral understanding.

If you believe that child-marriage and slavery at 6-7th century Arabia were still immoral, then saying:

>"Muhammad mistakenly think child-marriage and slavery is justified because of society"

doesn't apply because then it means God didn't properly told him that it's wrong. In this case, saying "he should've known better" absolutely apply since he has the capability to know due to his status as a Prophet.

So then the next move is this:
Reject the claim that child-marriage and slavery was immoral at the 6-7th century Arabia, and prove that it was in fact moral.

Which means the discussion is no longer about judging the historical actor (where the presentism fallacy would be relevant), but about the moral status of the acts themselves, a question of moral philosophy.

TLDR:

The main point is that the presentism fallacy only concerns whether it is fair to judge historical people by modern standards; it does not determine whether the actions themselves were morally right or wrong. Therefore, appealing to presentism alone does not answer criticisms that slavery or child marriage are immoral. Moreover, if Muhammad is understood theologically as a prophet guided by an all-knowing and perfectly good God, then defending his actions by saying he was merely a product of his time is less applicable. In that case, the debate shifts from historical context to the moral status of the actions themselves.

reddit.com
u/Low_Pianist_2067 — 1 month ago

Tanggapan ku mengenai video Prof Zulys mengenai Evolusi

Saya bahas bagian yang relevan saja, dia membawa sedikit argumen-argumen filosofis soal eksistensi Tuhan (seperti fine-tuning argument pada bagian akhir video), saya tidak tertarik untuk membahas itu. Saya ingin bahas dua hal saja. By the way, bagian sebelum 2:18 itu dia membahas teori evolusi, kalau mau skip ke pembahasan agama, mulai dari 2:18.

Tentang agama dan evolusi (2:18)

Dia bilang kurang lebih:

>"Evolusi tidak dijelasan secara detail, bukan karena agama tidak tahu, tapi karena agama fokus hal lain yang lebih penting."

Menurutku ada asumsi yang perlu dibuktikan di kalimat itu. Dengan mengatakan "evolusi tidak dijelaskan secara detail", itu terkesan mengasumsikan bahwa Islam memang menjelaskan evolusi, hanya saja tidak secara rinci. Padahal menurutku klaim itu sendiri perlu dibuktikan.

Kalau agama tersebut memang tidak pernah membahas evolusi, apakah berarti agama tersebut menentang evolusi? Belum tentu. Tapi di sisi lain, itu juga tidak berarti agama sedang membahas atau menjelaskan evolusi. Kalau agama tidak pernah membahas tentang "X", menurutku kesimpulan yang paling masuk akal adalah agama memang tidak mengambil posisi terhadap X. Dari situ kita juga tidak bisa menyimpulkan apakah agama mengetahui X atau tidak (tergantung kondisi).

Nah, sekarang ke bagian terpenting: "Apakah Islam bertentangan dengan teori evolusi?"
Menurutku pembahasan dia soal itu terlalu singkat, dan justru isu yang menurut saya paling penting belum dibahas. Yang dia bilang hanya:

>"Al-Quran bilang manusia komposisinya dari tanah, tidak menjelaskan prosesnya"

Menurutku membahas komposisi seperti itu kurang relevan, yang lebih relevan adalah apakah manusia pertama datang atau lahir dari makhluk non-manusia. Karena menurut sains, manusia pertama lahir dari makhluk hidup sebelumnya. Kalau ditelusuri ke belakang, manusia dan kera punya nenek moyang yang sama. Lalu kalau ditelusuri lebih jauh lagi, nenek moyang kita pada akhirnya berasal dari makhluk yang bentuknya mirip ikan. Iya, nenek moyang kita memang ada yang mirip ikan. Dan ya belum berhenti disitu, masih bisa ditelusuri lagi kebelakang.

Nah, bagian ini justru tidak dibahas sama Prof. Zulys, padahal menurutku di sinilah letak konflik utamanya dengan agama Islam.

Kalau dia berpendapat bahwa manusia pertama, yaitu Adam, lahir dari makhluk lain, maka itu bertolak belakang dengan mayoritas tafsir ulama yang memahami bahwa Adam diciptakan secara langsung oleh Tuhan, bukan berasal dari makhluk lain. Sebaliknya, kalau dia berpendapat bahwa manusia pertama memang langsung diciptakan oleh Tuhan, tanpa memiliki nenek moyang atau orang tua, maka posisi itu bertolak belakang dengan penjelasan sains modern tentang asal-usul manusia. Letak permasalahannya tidak berkaitan dengan komposisi manusia.

Cocoklogi manusia dari tanah (3:11 - 3:30).

Narasi bahwa manusia diciptakan dari tanah/tanah liat (yang merupakan narasi umum dalam banyak mitologi) tidak bisa dikaitkan dengan fakta modern bahwa komposisi unsur yang ada di tanah juga terdapat pada manusia. Cocoklogi seperti itu ibarat mengatakan bahwa mitologi tentang hujan api telah memprediksi senjata napalm atau bom nuklir, dengan alasan, "Keduanya jatuh dari langit dan dapat menyebabkan kobaran api di area yang luas." Tidak valid untuk menyimpulkan bahwa kedua hal mendeskripsikan hal yang sama hanya karena keduanya memiliki kesamaan yang umum.

Seperti yang saya pernah bilang pada paragraf dua di post ini:

>Hanya karena suatu deskripsi cocok dengan suatu hal BUKAN BERARTI deskripsinya benar-benar mendeskripsikan atau mereferensikan hal tersebut.

Lagi pula, walaupun benar bahwa Al-Qur'an tidak menjelaskan bagaimana proses penciptaannya, hal itu tidak mengubah bahwa menurut Al-Qur'an manusia diciptakan dari tanah, bukan dari "komposisi yang terdapat di tanah", melainkan dari "tanah" itu sendiri.

Surah Al-Hijr ayat 26 mengatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah liat yang berasal dari lumpur hitam. Surah Ar-Rahman ayat 14 mengatakan manusia diciptakan dari tanah liat kering seperti tembikar. Surah As-Saffat ayat 11 mengatakan manusia diciptakan dari tanah liat yang lengket.

Ketiga contoh ini jelas menunjukkan bahwa peristiwa tersebut tidak sama dengan apa yang dimaksud oleh sains. Dalam konteks ini, poin saya bukan bahwa ayat-ayat tersebut bertolak belakang dengan sains. Toh, seorang Muslim dapat mengatakan bahwa itu merupakan peristiwa gaib atau semacamnya. Poin saya adalah jangan mereinterpretasi maknanya hanya karena ingin melakukan cocoklogi ke sains.

Konsistenlah. Jangan ketika suatu ayat bisa dicocoklogikan dengan sains lalu mengklaim bahwa "sains membuktikannya!", tetapi ketika justru tampak problematis jika dibandingkan dengan sains, malah mengatakan, "ini kan perkara gaib!"

Selain itu, hanya karena tanah memiliki komposisi yang mirip dengan manusia, bukan berarti manusia diciptakan "dari" tanah. Jika kita memakai logika tersebut, apakah bisa dikatakan manusia diciptakan dari matahari karena keduanya mengandung oksigen, hidrogen, karbon, dan besi? Apakah bisa dikatakan manusia diciptakan dari udara karena keduanya mengandung nitrogen dan oksigen?

youtube.com
u/Low_Pianist_2067 — 1 month ago

Keajaiban ilmiah adalah argumen lemah yang super overrated

Banyak Muslim yang memakai argumen ayat Al-Quran ngomongin modern sains untuk membuktikan kebenaran Islam, padahal kebanyakan kasusnya itu cuman cocoklogi. Ayat-ayat Al-Quran yang diambil itu kebanyakan ayat-ayat yang penjelasannya ambigu. Yang namanya ambigu itu ga presisi/spesifik, bisa cocok dengan banyak kemungkinan makna, bahkan yang kontradiktif sekalipun. Jadi ya mudah dicocokin kemana aja, dan mereka cocok-cocokin ke sains modern untuk membuat ilusi seakan-akan yang dimaksud oleh Al-Quran secara spesifik adalah yang mereka klaim.

Hanya karena suatu deskripsi cocok dengan suatu hal BUKAN BERARTI deskripsinya benar-benar mendeskripsikan atau mereferensikan hal tersebut. Misal gini, sebagai contoh, orang zaman kuno mengatakan "Ada bahaya yang tidak terlihat oleh mata biasa". Apakah itu cocok dengan teori kuman penyakit? Jawabannya iya, patogen kan gabisa diliat langsung oleh mata, jadi kalau dibilang cocok sih ya cocok. Tapi apakah terus kesimpulannya berarti orang itu mereferensikan teori kuman penyakit sehingga membuktikan bahwa orang zaman kuno ini mengetahui fakta-ilmiah modern?

Jawabannya, itu kesimpulan yang ga valid, itu cocoklogi ke sains modern namanya. Karena bisa aja dan jauh lebih mungkin orang itu ngomongin tentang roh atau entitas ghaib yang jahat, bahaya dalam konteks lingkungan kayak hewan berbisa yang bersembunyi, atau metafora untuk sifat-sifat buruk yang tersembunyi. Kenapa bisa dicocoklogiin dengan mudah? Karena klaim ambigu itu bersifat catch-all, jadi bisa dicocokin kemana aja seperti yang ku bilang.

Ini juga alasan mengapa argumen keajaiban ilmiah hampir sama sekali ga pernah liat tafsir (karena tafsir sering menjelaskan detailnya), kalau dari pengalamanku, aku ga pernah liat satupun argumen keajaiban ilmiah yang bawa tafsir. Dan juga klaim seperti itu selalu muncul setelah penemuan modernnya. Padahal kalau memang konsep sains modernnya sudah ada di Al-Quran, lantas kemana aja ilmuwan Muslim dari dulu kenapa ga mereka ajukan hipotesisnya? Kenapa nunggu-nunggu ilmuwan (kebanyakan non-muslim) buat nemuin, terus baru diklaim "Wah nih teorinya udah ada di kitab suci gueh". Ya karena kebanyakan sifatnya ambigu, jadi susah buat mengetahui apa makna pastinya karena terlalu luas.

Apakah fenomena cocoklogi begini ada istilah yang lebih "official" nya? Jawabannya ada, namanya postdiction. Aku quote bagian penjelasan bagaimana cocokloginya dilakukan dari artikel wikipedia inggrisnya dan translasinya:

>Sebagian besar ramalan dari tokoh-tokoh seperti Nostradamus dan James Van Praagh mengungkapkan masa depan dengan ketidakjelasan dan ambiguitas yang tampaknya disengaja sehingga interpretasi hampir mustahil dilakukan sebelum peristiwa terjadi, menjadikan ramalan tersebut tidak berguna sebagai alat prediksi. Namun, setelah peristiwa terjadi, para peramal atau pendukung mereka memasukkan detail ke dalam ramalan dengan menggunakan pemikiran selektif —menekankan "ketepatan", mengabaikan "kegagalan"—untuk memberikan kredibilitas pada ramalan dan memberikan kesan "prediksi" yang akurat. Ramalan yang tidak akurat dihilangkan.

Aku pernah bikin tiga argumen umum untuk mengkritik klaim keajaiban ilmiah di r/DebateReligion, dan argumen diatas itu masuknya ke argumen pertama. Ini linknya:
https://www.reddit.com/r/DebateReligion/s/b7eUwFAv2a
Jadi kalau mau liat lebih lanjut bisa disitu, atau sekalian mau liat argumen kedua dan ketiga. Di post itu aku sekalian kasih contoh dari ayat-ayat yang sering dipakai.
Masih bahasa inggris, mungkin suatu saat ku bakal translate dan post di subreddit ini.

u/Low_Pianist_2067 — 1 month ago

Argumen lemah yang sering dipakai

Banyak Muslim yang memakai argumen ayat Al-Quran ngomongin modern sains untuk membuktikan kebenaran Islam, padahal kebanyakan kasusnya itu cuman cocoklogi. Ayat-ayat Al-Quran yang diambil itu kebanyakan ayat-ayat yang sifatnya ambigu, yang namanya ambigu itu ga presisi/spesifik, berarti bisa cocok dengan banyak kemungkinan makna, bahkan yang kontradiktif sekalipun. Jadi ya mudah dicocokin kemana aja, dan mereka cocok-cocokin ke sains modern untuk membuat ilusi seakan-akan yang dimaksud oleh Al-Quran secara spesifik adalah yang mereka klaim.

Hanya karena suatu deskripsi cocok dengan suatu hal BUKAN BERARTI deskripsinya benar-benar mendeskripsikan atau mereferensikan hal tersebut. Misal gini, sebagai contoh, orang zaman kuno mengatakan "Ada bahaya yang tidak terlihat oleh mata biasa". Apakah itu cocok dengan teori kuman penyakit? Jawabannya iya, patogen kan gabisa diliat langsung oleh mata. Tapi apakah terus kesimpulannya berarti orang itu mereferensikan teori kuman penyakit sehingga membuktikan orang zaman kuno ini mengetahui fakta-ilmiah modern?

Belum tentu, itu cocoklogi ke sains modern namanya. Padahal bisa aja orang itu ngomongin tentang roh atau entitas ghaib yang jahat, bahaya dalam konteks lingkungan kayak hewan berbisa yang bersembunyi, atau metafora untuk sifat sifat buruk yang tersembunyi. Kenapa bisa dicocoklogiin dengan mudah? Karena klaimnya ambigu dan terlalu catch-all.

Ini juga alasan mengapa argumen kayak gitu hampir sama sekali ga liat tafsir (karena tafsir sering menjelaskan detailnya), dan klaim seperti itu selalu muncul setelah penemuan modernnya. Kalau memang ada konsep sains modern yang udah ada di Al-Quran, kenapa ga ajukan aja dari dulu? Kenapa nunggu-nunggu ilmuwan (kebanyakan non-muslim) buat nemuin, terus baru diklaim "Wah nih teorinya udah ada di kitab suci gueh". Ya karena kebanyakan sifatnya ambigu, jadi susah buat mengetahui apa makna pastinya karena terlalu luas. Baru pas udah ada penemuan tinggal dicocok-cocokin.

Apakah fenomena cocoklogi begini ada istilah yang lebih "official" nya? Jawabannya ada, namanya postdiction. Saya quote bagian penjelasan bagaimana cocokloginya dilakukan dari artikel wikipedia inggrisnya dan translasinya:

>Sebagian besar ramalan dari tokoh-tokoh seperti Nostradamus dan James Van Praagh mengungkapkan masa depan dengan ketidakjelasan dan ambiguitas yang tampaknya disengaja sehingga interpretasi hampir mustahil dilakukan sebelum peristiwa terjadi, menjadikan ramalan tersebut tidak berguna sebagai alat prediksi. Namun, setelah peristiwa terjadi, para peramal atau pendukung mereka memasukkan detail ke dalam ramalan dengan menggunakan pemikiran selektif —menekankan "ketepatan", mengabaikan "kegagalan"—untuk memberikan kredibilitas pada ramalan dan memberikan kesan "prediksi" yang akurat. Ramalan yang tidak akurat dihilangkan.

Saya pernah bikin tiga argumen umum untuk mengkritik klaim keajaiban ilmiah di r/DebateReligion, dan argumen diatas itu masuknya ke argumen pertama. Ini linknya:
https://www.reddit.com/r/DebateReligion/s/b7eUwFAv2a
Jadi kalau mau liat lebih lanjut bisa disitu, atau sekalian mau liat argumen kedua dan ketiga.
Masih bahasa inggris, mungkin suatu saat saya bakal translate dan post di subreddit ini.

u/Low_Pianist_2067 — 1 month ago