











Exibit 1: antrian bis transit dari stasiun cisauk ke ICE tidak akan terjadi kalo pemerintah serius ngurus transum. Masalahnya, BSD City aja full diurus swasta.
Exhibit 2: kalau pemerintah fokus ngurus sektor formal, perekonomian rakyat nggak akan bergantung sama sektor informal dan UMKM —nggak semua orang jadi pengen jualan di CF.
Exibit 3: pengunjung yang membludak karena banyak 'normies' yang FOMO soalnya nggak ada ruang publik yang cukup untuk warga, jadinya orang cari kegiatan nebeng di acara komunitas.
Exibit 4: sinyal jelek karena pemerintah menormalisasi praktik monopoli provider selular (termasuk aturan masa berlaku kuota) sehingga provider lain sulit bersaing untuk bisa provide pelayanan yang lebih berkualitas.
Exibit 5: you first date canceled karena pas ketemu kalian udah buluk duluan berjibaku dengan pepesan di transum, jemuran ngantri masuk, sinyal hilang dan makeup luntur. Relationship nggak lanjut, pernikahan tidak terjadi, angka kelahiran menurun, bonus demografi nihil, ketersediaan tenaga kerja menurun, perekonomian memburuk.
Exibit 6: Copet. Ekonomi buruk tanpa jaminan sosial langsung ataupun harapan perbaikan faktor ekonomi lewat pendidikan tinggi (pemerintah tidak menjamin kualitas pendidikan dan ketersediaan lapangan kerja untuk lulusan pendidikan tinggi), akhirnya warga menghalalkan pekerjaan yang mudah dan cepat menghasilkan walaupun sekadar cukup buat makan seminggu.
Exibit 7: Art market panas dan berdesakan karena semua orang berusaha masuk dan berdiam di dalam ruang mengharapkan pendingin ruangan karena suhu di luar ruangan sangat tinggi dan lembab. Ini akibat pemerintah yang tidak meregulasi industri dan pengolahan SDA tidak terbarukan yang menyebabkan tingginya tingkat emisi CO² dan polusi udara, ditambah dengan sangat minimnya tanaman peneduh terutama daerah perkotaan dan pusat ekonomi.
Exibit 8: Banyak orang FOMO mulai ikutan cosplay lalu membuat konten meski memaksakan diri ini akibat kondisi sosial ekonomi yang tidak jelas yang membuat orang mencari aktualisasi diri melalui validasi parasosial karena rakyat dipaksa hidup selalu dalam mode survival sehingga tidak benar-benar bisa punya waktu dan disposable income untuk memiliki hobi yang sehat. Kondisi pekerjaan yang buruk juga membuat pekerjaan hanya diperlakukan sebagai penyambung hidup, bukan salah satu sarana untuk aktualisasi diri.
So, Bagaimana Tanggapan Konowibu Sekalian?
Sumber Foto : https://www.flickr.com/photos/25015218@N04/2360571197